Kamis, 17 November 2011

Air Tuba Dibalas Air Susu

Jika kebaikan dibalas keburukan mungkin sering kita dengar. Air susu dibalas air tuba. Tapi jika keburukan dibalas dengan kebaikan, sepertinya hanya orang-orang berjiwa besar yang sanggup melakukannya. Bagaimana tidak, menepikan rasa marah, sakit hati, kecewa dan menggantinya dengan balasan kebaikan tentu butuh hati yang lapang, jiwa yang besar.

Terkisah Ibn Al Qayyim Al Jauziyah bercerita tentang gurunya Ibn Taimiyah. 

Demikian cerita beliau :
"Suatu hari, salah satu musuh guruku itu mati. Dia ahli fiqh yang sangat dengki pada Ibn Taimiyah, hingga berulang kali menebar fitnah, menyebabkan beliau dipenjara dan disiksa. Akupun bergegas, dengan diliputi rasa lega dan sukacita mengabarkan hal ini pada guruku. Kuceritakan padanya dengan berapi-api. Guruku menyimak, menunduk sejenak, dan menghela nafas. Kemudian beliau menatap dengan sendu dan berkata padaku : "Ayo berangkat". Di sana, guruku terlibat penuh dalam pengurusan jenazah sang musuh. Setelah tunai semua fardhu kifayah, beliau menarikku lagi. Kali ini masuk ke dalam rumah dan menemui keluarga yang berkabung. Guruku bicara pada mereka dengan kata-kata yang tak kuduga : "Mulai hari ini, seluruh nafkah dan hajat keluarga ini, akulah yang menanggungnya. Mohon jangan menolak duhai keluarga saudaraku".

Lanjut Ibn Al Qayyim, "Aku menangis mendengar kalimat mulia Guruku dan akhlaq agungnya pada keluarga musuh yang telah menyakitinya Aku yang malu atas pekertiku telah belajar; akhlaq mulia, sikap pewira, dan kasih utama menjadikan luka sembuh dan dendampun luruh.
 
Sungguh sikap mulia yang patut dijadikan ibrah. Ternyata keburukan yang dibalas dengan kebaikan demikian indahnya. Keburukan dan kebencian tak seharusnya dibalas dengan sikap yang sama. Semoga bisa belajar, insyaAlloh...

 ***
Ketidaksukaan kita pada seseorang janganlah menghalangi kita atas 3 perkara : 
bersikap adil, mengambil ilmu, dan menunjukkan unggulnya akhlaq kita.
- Salim A Fillah -

Selasa, 11 Oktober 2011

Ingin Dimengerti

Suatu ketika sepasang pengantin baru berjalan-jalan menikmati indahnya perkampungan yang masih belum tersentuh bising dan aroma kota. Ketika mereka bercanda, tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan “Kwek...kwek...kwek”

“Dengar sayang, ada ayam”, kata istrinya

“Bukan..bukan, itu suara bebek”, kata suaminya.

“Nggak, itu suara ayam”, istrinya bersikeras.

“Istriku..itu suara bebek, suara ayam itu bunyinya kukururyuuuuk, kalau bebek itu ya kwek...kwek...kwek, nah itu bebek sayang, bukan ayam“, kata suaminya mencoba menjelaskan.

“Nggak, aku yakin itu suara ayam”, kata istrinya.

“Sayang, itu bebek, kamu ini..kamuuuuuuuu”, suaminya agak kesal. 

Seketika itu basahlah pipi istrinya, dia menangis sambil tersendu tapi tetap berkata, 

“Aku yakin itu ayam, bukan bebek”, ucapnya pilu.

Kemudian sang suami tersadar tak mau ribut lagi dan berkata, 

“Ya kamu benar sayang, itu suara ayam”. Suaminya berucap bersamaan dengan suara dari kejauhan ..kwek...kwek...kwek...


die dari milis


My Note :
Seharusnya cinta selalu mau mengerti. Apalagi hanya untuk hal-hal yang kecil, sepele dan tidak penting. Tapi terkadang kita malahan meributkan sesuatu yang tidak perlu. Sedikit demi sedikit pertengkaran-pertengkaran kecil terkumpul, menumpuk menjadi gunung es, dan tak mustahil akan meledak menjadi permasalahan besar yang akan membawa perpisahan. Tak apa mengalah demi keharmonisan cinta, demi seseorang yang dicintai. Karena terkadang perempuan sering berbuat sesuatu yang merepotkan dan bikin pusing. Asal tahu saja, tak ada maksud untuk merepotkan dan bikin pusing. Terkadang perempuan hanya ingin dimengerti...:)

Sebaik-baik kalian ialah orang yang paling baik perilakunya terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik dari kalian dalam memperlakukan istriku.
 (HR. At Tirmizi dan dishahihkan oleh Al Albani)



Selasa, 20 September 2011

Hadits-Hadits Cinta


Begitu banyak peluang yang Alloh berikan, yang Rosulullah tunjukan, untuk menjadi mulia dengan cinta. Bukan menjadi terhina dan terpuruk, karenanya. Semoga hadits-hadits cinta ini bisa mengantarkan kita untuk sedikit demi sedikit memahami cinta yang menyelamatkan. Cinta yang menerbangkan kita ke surga-Nya, InsyaAlloh. 

Cinta yang memberikan cahaya 
“Sesungguhnya diantara hamba-hamba Alloh itu ada beberapa orang yang bukan nabi dan syuhada menginginkan keadaan seperti mereka, karena kedudukannya disisi Alloh. Sahabat bertanya : Ya Rosulullah, tolong kami beritahu siapa mereka ? Rosulullah SAW. Menjawab : Mereka adalah satu kaum yang cinta mencintai dengan ruh Alloh tanpa ada hubungan sanak saudara, kerabat diantara mereka serta tidak ada hubungan harta benda yang ada pada mereka. Maka, demi Alloh wajah-wajah mereka sungguh bercahaya, sedang mereka tidak takut apa-apa dikala orang lain takut, dan mereka tidak berduka cita dikala orang lain berduka cita” (H.R. Abu Daud) 

Cinta yang menggugurkan dosa 
“Sesungguhnya seorang muslim apabila bertemu saudaranya yang muslim, lalu ia memegang tangannya (berjabat tangan) gugurlah dosa keduanya sebagaimana gugurnya daun dan pohon kering jika ditiup angin kencang. Sungguh diampuni dosa mereka berdua, meski sebanyak buih dilaut” (H.R. Tabrani) 

Cinta yang memberikan keteduhan
 “Sesungguhnya Alloh SWT pada hari kiamat berfirman : “Dimanakah orang yang cinta mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi dengan menunggu-Ku dihari yang tiada naungan melainkan naungan-Ku” (H.R. Muslim) 

Cinta yang berbalas cinta
“Alloh SWT berfirman, “pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang cinta mencintai karena Aku, saling kunjung mengunjungi karena Aku dan saling memberi karena Aku” (Hadits Qudsi) 

Karena cinta, dicintai-Nya
“Bahwa seseorang mengunjungi saudaranya di desa lain, lalu Alloh mengutus malaikat untuk membuntutinya. Tatkala malaikat menemaninya malaikat berkata : Kau mau kemana ? Ia menjawab : Aku ingin mengujungi saudaraku di desa ini. Malaikat terus bertanya : Apakah kamu akan memberikan sesuatu pada saudaramu ? Ia menjawab : Tidak ada, melainkan hanya aku mencintainya karena Alloh SWT. Malaikat berkata : Sesungguhnya aku diutus Alloh kepadamu, bahwa Alloh mencintaimu sebagaimana kamu mencintai orang tersebut karena-Nya” (H.R. Muslim) 

Tiga cinta yang manis 
"Tiga perkara, yang barang siapa memilikinya, ia dapat merasakan manisnya iman, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul melebihi cintanya kepada selain keduanya, cinta kepada seseorang karena Allah dan membenci kekafiran sebagaimana ia tidak mau dicampakan ke dalam api neraka” (H.R. Bukhari-Muslim)
 

Diambil dari buku "La Tahzan For Broken Hearted Muslimah"

Selasa, 13 September 2011

Wanita

Wanita tercantik bagi pria terbaik bukanlah yang paling jelita, melainkan dia yang jika dipandang memberi tenang dan surgapun terbayang.

Wanita terkuat bagi pria semangat bukanlah yang merasa terhebat, melainkan yang menundukkan diri dengan ibadat, menempatkan diri dalam taat.

Wanita terkaya di hati pria bukan dia yang bertumpuk harta, melainkan yang ridha pada halal semata dan qana'ahnya menjadi simpanan tak fana.

Wanita terdahsyat bagi lelaki bukan dia yang pesonanya memukau banyak mata, melainkan yang siap menjadi madrasah cinta bagi anak-anaknya.

Wanita paling kukuh di kehidupan pria bukan yang tak pernah menangis, tapi yang tersenyum meneguhkan dan airmatanya menjadi pengingat taqwa.

Wanita paling bermakna bagi pria bahagia ialah dia yang kala berpisah menenangkan, kala berjumpa menggelorakan, tiap masa saling menguatkan.

- Salim A Fillah -

Selasa, 23 Agustus 2011

Tidak Siap

Di dalam kitab Al Hikam, Ibn 'Athaillah As Sakandari menuturkan sebuah kisah, tentang seseorang yang diijabah doanya oleh Alloh SWT, tapi sang pendoa ternyata justru tidak siap dengan pengabulan doanya itu.

Ahli ibadah ini berdoa memohon kepada Alloh SWT agar dikaruniai dua potong roti setiap hari di pagi dan petangnya tanpa harus bekerja untuk mendapatkannya. Dia berharap dengan itu pengabdiannya kepada alloh SWT akan jadi lebih khusyuk karena tanpa harus memikirkan untuk bekerja. Dalam bayangannya jika tak bersusah-susah mengejar dunia maka ibadahnya akan lebih terjaga. 

Maka Alloh SWT pun menjawab doanya. Sebuah pengabulan yang sempurna. Pintanya itu terwujud dengan cara yang tak terduga. Alloh SWT mentakdirkannya ditimpa fitnah, dituduh melakukan kejahatan. Tuduhan yang mengantarkannya masuk penjara. Dalam penjara itu Alloh SWT pun menakdirkan dia mendapat jatah ransum dua kerat roti, satu di kala pagi, satu di petangnya. Tanpa bekerja ataupun upaya lainnya. Doanya sempurna terkabul seperti yang pernah dimohonkannya, mendapat rizki tanpa bekerja, agar khusyuk ibadah yang akan dilakukannya.

Tapi apa yang dilakukan sang abid. Ternyata dia tak menginsyafi bahwa doanya telah terjawab. Dia justru sibuk meratapi nasibnya yang malang karena telah masuk penjara.

Subhanalloh. Kisah yang penuh makna di dalamnya. Terkadang kita tidak berhati-hati dalam berdoa. Tidak mempersiapkan diri dengan doa yang dipinta. Begitu banyak meminta tapi tak berpikir apakah saat pinta kita itu dikabulkan-Nya benar-benar akan menambah kebaikan dan juga keimanan kita, atau justru dengan dikabulkannya doa itu malah melalaikan kita dari mengingat-Nya. Sering kita memohon ini dan itu, tapi pada saat Alloh SWT telah memberikannya, kita malah semakin jarang/malas beribadah. Pada akhirnya terkabulnya doa bukanlah mendatangkan senyum-Nya tapi justru murka-Nya.

Wallahu'alam. Semoga bisa belajar. Aamiin...

Senin, 15 Agustus 2011

Mengeluh

Anakku berlari keluar kelas dan langsung menemuiku sambil berkata : "Aku hari ini puasanya ga pakai mengeluh dong...". Ucapannya ringan, dan terdengar riang. Tapi sanggup membuatku mengernyitkan dahi. Apalagi setelah barusan aku mengeluh karena panas yang belakangan seperti menusuk kulit. Meski mungkin anakku tidak bermaksud menyindir (dia hanya merasa apa yang dilakukannya hari ini adalah sesuatu yang baik dan ibu pasti senang mendengarnya) tapi tak urung aku merasa tersentil juga.

Terkadang begitu banyak yang kita keluhkan, bahkan hal-hal yang remeh, sampai kita lupa untuk bersyukur. Mengeluh karena panasnya hari dan lupa bahwa Alloh memberi udara yang sedemikian bebas dinikmati. Itu hanya nikmat udara, belum nikmat yang lainnya.“Dan jika kamu menghitung nikmat Alloh, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya" (QS An-Nahl: 18). Di saat kita tenggelam dalam keluhan diri sendiri, pancaindra kita tidak lagi mampu memainkan peranannya untuk melihat, mendengar, merasai dan menghayati pemberian Alloh yang tiada henti-hentinya. Itulah yang sering terjadi. Membuat keluhan menjadi semakin mudah terucap dari bibir. 

Teringat sebuah kisah, ada seorang pemuda yang sering berdoa di sisi Baitullah : "Ya Alloh, masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit". Doanya didengar oleh Khalifah Umar bin Khattab ketika beliau sedang melakukan tawaf di Ka'bah. Khalifah merasa heran dengan permintaan pemuda tersebut. Setelah selesai melakukan tawaf, Khalifah Umar memanggil pemuda itu lalu bertanya: "Mengapa engkau berdoa seperti itu, apakah tak ada permintaan lain yang kau mohonkan kepada Alloh?". Pemuda itu menjawab : "Ya Amirul Mukminin, Aku membaca doa itu karena aku merasa takut dengan penjelasan Alloh seperti firman-Nya dalam surat al-A’raaf ayat 10, “Sesungguhnya Kami (Alloh) telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber/jalan) penghidupan. (Tetapi) amat sedikitlah kamu bersyukur". Aku memohon agar Alloh memasukkan aku dalam golongan yang sedikit, karena terlalu sedikit orang yang tahu bersyukur kepada Alloh". Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar bin Khattab menepuk kepalanya sambil berkata kepada dirinya sendiri : "Wahai Umar, alangkah bodohnya engkau, orang biasa justru lebih alim daripadamu".

Subhanalloh. Hanya mampu memohon ampun. Dan semoga termasuk ke dalam golongan yang sedikit itu, aamiin...

Minggu, 07 Agustus 2011

Dan, Malaikatpun Mendo'akan...

Dalam Al Qur'an surat Al Anbiyaa' : 26-28, Alloh SWT berfirman : 

"Sebenarnya (malaikat - malaikat itu) adalah hamba - hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Alloh mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa'at melainkan kepada orang-orang yang diridhai Alloh, dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya"

Ternyata malaikatpun bisa memberi syafa'at(pertolongan) bagi kita. Syafa’at hakikatnya adalah doa, atau memerantarai orang lain untuk mendapatkan kebaikan dan menolak keburukan. Atau dengan kata lain syafa’at adalah memintakan kepada Alloh di akhirat untuk kepentingan orang lain. Dengan demikian meminta syafa’at berarti meminta doa, sehingga permasalahan syafa’at ialah sama dengan doa.

Lalu siapa saja yang dido'akan malaikat ? Dalam buku 'Orang-Orang Yang Dido'akan Malaikat', tulisan Syaikh Fadhl Ilahi, berikut ini adalah yang termasuk didalamnya :
  • Orang yang tidur dalam keadaan berwudhu.
    Rasululloh SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa : Ya Alloh, ampunilah hambamu si fulan kerana tidur dalam keadaan suci".

    (Riwayat Ibnu Hibban )
  • Orang yang sedang duduk menunggu waktu sholat.
    Rasululloh SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang di antara kalian yang duduk menunggu sholat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya : Ya Alloh, ampunilah ia. Ya Alloh sayangilah ia".

    (Riwayat Muslim )
  • Orang yang berada di shaf barisan depan berjemaah.
    Rasululloh SAW bersabda, "Sesungguhnya Alloh dan para malaikat-Nya bersolawat kepada (orang-orang) yang berada pada shaf-shaf terdepan".

    (Riawayat Abu Daud)
  • Orang yang menyambung shaf sholat berjamaah (tidak membiarkan kekosongan di dalam shaf).
    Rasululloh SAW bersabda, "Sesungguhnya Alloh dan para malaikat selalu bersolawat kepada orang–orang yang menyambung shaf-shaf ".
    (Riwayat Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim)
  • Orang yang mengucapkan 'aamiin' ketika imam selesai membaca Al Fatihah.
    Rasululloh SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca ‘ ghairil maghdhuubi ‘ alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, kerana barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya masa lalu".

    (Riwayat Bukhari)
  • Orang yang duduk di tempat sholatnya setelah selesai sholat.
    Rasululloh SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bersolawat kepada salah satu di antara kalian selama ia ada di dalam tempat sholat di mana ia melakukan sholat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata : Ya Alloh ampunilah dan sayangilah ia".

    (Riwayat Imam Ahmad)
  • Orang yang sholat subuh dan ashar secara berjama'ah.
    Rasululloh SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat sholat subuh lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu sholat ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga sholat ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Alloh bertanya kepada mereka : Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?, mereka menjawab : Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan sholat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan sholat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat".

    (Riwayat Imam Ahmad)
  • Orang yang mendoakan saudaranya tanpa pengetahuan orang yang didoakan.
    Rasululloh SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa pengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan".

    (RiwayatMuslim)
  • Orang–orang yang berinfak.
    Rasululloh SAW bersabda, "Tidak satu hari pun di mana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali dua malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak. Dan lainnya berkata : Ya Alloh, hancurkanlah harta orang yang bakhil".

    (Riwayat Bukhari dan Muslim)
  • Orang yang sedang makan sahur.
    Rasululloh SAW bersabda, "Sesungguhnya Alloh dan para malaikat-Nya bersolawat kepada orang–orang yang sedang makan sahur".

    (Riwayat Ibnu Hibban dan Thabrani)
  • Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
    Rasululloh SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Alloh akan mengutus 70,000 malaikat untuknya yang akan bersolawat kepadanya di waktu siang hingga petang dan di waktu malam hingga subuh".

    (Riwayat Imam Ahmad)
  • Orang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
    Rasululloh SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya berselawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain".

    (Riwayat Tirmidzi)
Subhanalloh. Semoga kita termasuk di dalamnya. Aamiin.

Wallahu'alam

Sabtu, 06 Agustus 2011

Al Hikam

Sekilas tentang kitab Al Hikam :
  • Al Hikam adalah kitab yang ditulis Syaikh Ibnu 'Athaillah As-Sukandari Asy-Syadzili.
  • Merupakan salah satu panduan filosofis untuk meluruskan & meneguhkan keimanan.
  • Kitab ini dipergunakan secara umum oleh para penempuh jalan spiritual dari thariqoh yang manapun. Dan dipandang sebagai rujukan yang amat luar biasa manfaat dan menggerakkkan untuk mensucikan diri meraih tauhid yang hakiki.
  • Kitab ini mengajarkan ma'rifat (berada pada wilayah hati). Kitab ini cenderung berada di wilayah hakikat, bukan syari'at.
  • Kitab ini tidak dipergunakan oleh para pemula. Para sufi mempergunakannya untuk panduan para murid lanjutan.
  • Untuk memahami  kitab ini dengan baik memerlukan pemahaman pendahuluan. Juga memerlukan guru yang memang memahami dan mengamalkannya.
  • Banyak ungkapan hikmah dalam kitab ini yang tidak boleh dipahami leterlek tekstual. Ungkapan-ungkapannya harus dipahami dengan perenungan dan kedalaman hati. Yang diawali dengan keinsyafan sebagai hamba yang penuh kekurangan. Tanpa itu ada kemungkinan ungkapan yang disampaikan akan disalahpahami.
Wallahu'alam

Beberapa nasehat Ibnu Athaillah yang terdapat dalam kitab Al Hikam :
  • Tak terjadinya sesuatu yang dijanjikan, padahal waktunya telah tiba, janganlah sampai membuatmu ragu terhadap janji Alloh itu. Supaya yang demikian tidak mengaburkan pandangan mata batinmu dan memadamkan cahaya relung hatimu.
  • Apabila engkau ingin Alloh membukakan pintu pengharapan, maka perhatikanlah apa yang Dia berikan kepadamu.
  • Alloh melapangkan keadaanmu agar engkau tidak tetap dalam kesempitan, dan Alloh menyempitkan keadaanmu agar engkau tidak terus dalam kelapangan, dan Dia melepaskanmu dari keduanya agar engkau terbebas dari sesuatu selain-Nya.
  • Cinta sejati itu menyembuhkan. Bukan menyakitkan.
  • Di dalam shalat terbentang luas medan rahasia Alloh dan muncul darinya kilau cahaya-Nya.
  • Bagaimana mungkin segala sesuatu akan mampu menghalangi-Nya, jika Dia lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu itu sendiri ?
  • Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab tiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam, maka tidak sempurna hasil buahnya.
  • Tiada sesuatu yang sangat berguna bagi hati (jiwa), sebagaimana menyendiri untuk masuk ke medan berfikir (tafakur).
  • Penolakan dari Alloh terasa pedih bagimu hanya karena engkau tak mengerti rahmat Alloh di balik penolakan itu.
  • Singkatnya perjalanan yang sesungguhnya adalah bila jarak dunia dilipat untukmu sehingga engkau dapat melihat akhirat lebih dekat kepadamu ketimbang dirimu sendiri.
  • Sebaik-baik waktumu adalah kapan engkau menyadari kekuranganmu, dan engkau pun kembali mengakui kerendahanmu.
  • Cahaya adalah tentara kalbu sebagaimana kegelapan adalah tentara nafsu. Ketika Alloh hendak menolong hamba-Nya, Dia membantunya dengan tentara cahaya dan memutus bantuan kegelapan dan kepalsuan.
  • Sebaik-baik permohonan yang harusnya engkau ajukan kepada Alloh adalah apa yang dituntut Alloh untuk engkau lakukan.
  • Tidak tumbuh dahan-dahan kehinaan kecuali dari benih-benih ketamakan.
  • Siapa tidak mensyukuri nikmat, berarti menginginkan hilangnya. Dan siapa mensyukurinya, berarti telah secara kuat mengikatnya.
  • Di antara tanda matinya hati adalah tidak adanya perasaan sedih atas kesempatan beramal yang engkau lewatkan dan tidak adanya penyesalan atas pelanggaran yang engkau lakukan.
  • Tugas cahaya adalah menyingkap tabir, tugas mata batin menetapkan hukum, sedangkan tugas hati menghadapi atau membelakangi.
  • Cahaya adalah kendaraan hati dan relung batin.
  • Jangan tinggalkan zikir lantaran tidak bisa berkonsentrasi kepada Alloh ketika berzikir. Karena, kelalaianmu (terhadap Alloh) ketika tidak berzikir lebih buruk ketimbang kelalaianmu ketika berzikir. Mudah-mudahan Alloh berkenan mengangkatmu dari zikir penuh kelalaian menuju zikir penuh kesadaran, dan dari zikir penuh kesadaran menuju zikir yang disemangati kehadiran-Nya, menuju zikir yang meniadakan segala selain-Nya. "Dan yang demikian itu bagi Allah tidaklah sukar" (QS 14:20)
  • Sungguh mengherankan, orang yang lari dari apa yang dia tidak bisa terlepas darinya dan malah mencari apa yang tidak kekal baginya. "Sesungguhnya mata kepala itu tidak buta, tetapi yang buta itu adalah mata hati yang ada di dalam dada" (QS 22:46)
  • Jika engkau tidak bisa berbaik sangka kepada Alloh karena keindahan sifat-sifat-Nya, maka berbaik sangkalah karena pertemanan-Nya bersamamu. Bukankan Dia selalu memberimu sesuatu yang baik-baik? Dan bukankah Dia senantiasa memberimu nikmat?
Semoga manfa'at. Aamiin...

Sabtu, 30 Juli 2011

Kejujuran

Ahmad bin Fath berkata, Aku mendengar Bisyr bin Harits berkata, Pada suatu hari, Kahmis keluar dengan membawa dinar, lalu dinarnya terjatuh. Ia mencari dan menemukannya, tetapi ia meninggalkannya sembari berkata, "Bisa jadi dinar ini bukan dinarku." Dan pada hari yang lain, beliau pernah memakan ikan, lalu mengambil debu dari dinding tetangganya. Ia mencuci tangannya dengan debu tersebut, lalu ia berkata, "Semenjak empat puluh tahun yang lalu aku menangisi debu itu. Kenapa aku mengambil tanpa sepengetahuan si empunya rumah?"
(Shifatus Shafwah)

Di zaman sekarang adakah orang sejujur itu ? Mungkin ada. Tapi realita di sekitar kita berkata sebaliknya. Ke-tidakjujuran ada dimana-mana. Mengobral janji tanpa tahu artinya "menepati". Berlomba-lomba memenuhi kebutuhan duniawinya dengan cara menipu, curang, korupsi. Juga kasus tentang bagaimana anak-anak justru diajarkan tidak jujur saat ujiannya. Semuanya terlihat jelas di depan mata kita. Di televisi bahkan kita sulit membedakan mana yang benar-benar jujur dan mana yang membela diri demi menutupi ketidakjujurannya. Kejujuran menjadi seperti mata uang yang langka. Sulit ditemukan.

Sebuah kejujuran sebenarnya mencerminkan pribadi kita. Al-maru’ makhbu’un tahta lisanihi. Pribadi seseorang itu akan tampak apabila ia berbicara, apabila terucap perkataan yang baik dari lisannya maka baiklah ia, begitu pula sebaliknya. Jika seorang berlaku tidak jujur, bahkan kehilangan urat malunya saat melakukannya. bisa dibayangkan bagaimana pribadinya yang sebenarnya. Jauh dari akhlak terpuji.

Sebuah kejujuran juga akan diganjar pahala yang tak ternilai oleh-Nya. Dalam sebuah hadits dikatakan : "Kejujuran itu akan mendatangkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan membawa ke surga, dan dusta itu mendatangkan dosa, dan dosa akan membawa pelakunya ke neraka". Membaca hadits ini seorang yang bijak tentunya akan berpikir dua kali untuk melakukan sebuah ke-tidakjujuran bukan ? Besar atau kecil ke-tidakjujuran itu, malaikat tetap mencatatnya. Dan akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di akhirat.

Kejujuran seharusnya kita letakkan pada posisi luhur, laksana tiara. Ia, dalam keadaan apapun, harus ditempatkan pada posisi terhormat, terdepan, nomor satu. Sebab ia dapat membawa kita ke posisi selamat, posisi aman, baik di dunia maupun akhirat kelak. Jika seseorang tak mampu berperilaku jujur, maka muka menghitam tercoreng aib sendiri. Mungkin tak seberapa aib di dunia, tapi di hadapan-Nya ?

Semoga kita masih terus memiliki mata uang yag bernama 'kejujuran' itu. Menggenggamnya dengan kuat apapun yang terjadi. Karena dengannya kita masih bisa berjalan di muka bumi ini dengan penuh harga diri. Dan dihadapan-Nya kelak Dia akan memandang kita dengan penuh rahmat dan cinta kasih...

Wallahu a’lam bishawab

Kamis, 28 Juli 2011

Mulia Karena Cinta

Diriwayatkan dalam suatu hadits :
Bahwa seseorang mengunjungi saudaranya di desa lain, lalu Alloh SWT mengutus malaikat untuk membuntutinya. Tatkala malaikat menemaninya, malaikat berkata, "Kau mau ke mana?" Ia menjawab, "Aku ingin mengunjungi saudaraku di desa ini."
Malaikat terus bertanya, "Apakah kamu akan memberikan sesuatu kepada saudaramu?" Ia menjawab, "Tidak ada, melainkan hanya aku mencintainya karena Allah SWT." Malaikat berkata, "Sesungguhnya aku diutus Allah kepadamu, bahwa Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai orang tersebut karena-Nya"
-- HR Muslim

Jika hidup ini di ibaratkan taman, cinta adalah bunga-bunga yang senantiasa mekar silih berganti menghiasi kehidupan setiap anak manusia. Alloh SWT memberi begitu banyak kesempatan untuk mencinta. Mencintai-Nya, mencintai Rasul-Nya, mencintai orang tua, saudara, anak, suami/istri, sahabat, tetangga, dan cinta-cinta yang lainnya.

Dalam hirarki cinta, cinta kepada Alloh SWT berada di tempat tertinggi. Sedang cinta kepada selain-Nya hanyalah akan bernilai ketika cinta itu berawal dan berakhir karena Alloh SWT. Ketika semua cinta itu berhulu dan bermuara kepada-Nya tak akan ada cinta yang luka, cinta yang sakit, cinta yang patah. Karena semuanya hanya mengharap Ridho-Nya. Sakit atau luka akan kita terima dengan ikhlas karena semua kita niatkan karena-Nya. Demi cinta-Nya. Sehingga pada akhirnya cinta yang kita rasakan akan membawa pada kemuliaan, dan bukan sebaliknya malah terpuruk dan terhina karena cinta.

Agar tak sia-sia kita mencinta, adalah bijak untuk selalu meluruskan niat. Niatkan segala yang kita cintai hanya karena-Nya. Agar cinta-Nya mendatangimu dan memelukmu...

Wallahu'alam
--

Ya Alloh,
Kau tahu hati hati ini telah berkumpul dalam cinta-Mu
Bertemu dalam taat-Mu
Menyatu menolong dakwah-Mu
Berjanji perjuangkan syariat-Mu
Maka eratkan ikatannya Dan abadikan cintanya
(Syahid Hasan Al Banna)

Rabu, 27 Juli 2011

Futur

Pernah merasa futur ? Terutama dalam melaksanakan kebaikan/amalan. Aku yakin pernah. Dengan segala kelemahannya manusia tak bisa terhindar dari penyakit yang satu ini. Bahkan Zainab ra meletakkan seutas tali untuk dapat digunakan sebagai tempat bergantung jika datang masa futurnya, dikarenakan merasa malas berdiri untuk melaksanakan sholat.

Futur secara etimologi berarti : diam setelah giat dan lemah setelah semangat. Tingkatan paling rendahnya adalah rasa malas, berat, menunda-nunda atau memperlambat diri. Sedangkan puncaknya adalah terhenti sama sekali setelah sebelumnya rajin.

Menurut Ibnu Qayyim, "Saat-saat futur bagi seseorang yang beramal adalah hal wajar yang harus terjadi. Seseorang masa futurnya lebih membawa ke arah muraqabah (pengawasan oleh Alloh) dan pembenahan langkah, selama ia tidak keluar dari amal-amal fardhu dan tidak melaksanakan sesuatu yang diharamkan oleh Alloh, diharapkan ketika pulih ia akan berada dalam kondisi yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Sekalipun sebenarnya, aktivitas ibadah yang disukai Alloh adalah yang dilakukan secara rutin oleh seorang hamba tanpa terputus." (Madarij As-Salikin)

Untuk bisa menjauh dari kefuturan, perlu keinginan dan tekad yang kuat. Selain itu mengembalikan hati pada Sang penggenggam hati, memohon kekuatan untuk tetap istiqomah. Juga mengazzamkan niat (menguatkan niat) untuk kembali pada jalan kebenaran dan tidak kembali pada jalan kefuturan. Rosululloh bersabda, "Setiap amal memiliki puncaknya dan setiap puncak pasti mengalami kefuturan. Barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) pada sunnahku maka ia beruntung dan barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) kepada selain itu, maka berarti ia telah celaka." (HR Imam Ahmad)


Saat futur mulai menghinggapi alangkah lebih baik bila kita mulai kembali menata hati. Hati adalah tempat bersemayamnya kebaikan, sebagaimana dalam hadist, "Apabila ia baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya." Kebeningan hati, ketulusan iman serta keikhlasan berdoa merupakan senjata ampuh untuk mengikis future dan kembali pada semangat kebaikan.

Mungkin akan terasa berat. Bukankah terkadang jalan ke surga demikian adanya ? "Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka itu dikelilingi dengan kesenangan-kesenangan" (HR Bukhari dan Tirmidzi). Tapi seberat apapun jika surga dan juga ridho-Nya adalah harapan kita, insyaAlloh semuanya akan mudah kita lewati. SEMANGAT !

Wallahu'alam.

3 Utusan

Suatu hari, seperti dinukil oleh Syekh Abdurrahman Al Sinjari, dalam Al Buka min Khasyatillah, Nabi Ya'qub berdialog dengan malaikat pencabut nyawa.

"Aku ingin sesuatu yang harus engkau penuhi sebagai tanda persaudaraan kita", pinta Nabi Ya'qub.
"Apakah itu?", tanya malaikat maut.
"Jika ajalku telah dekat, beritahulah aku".
Malaikat itu menjawab,"Baik, aku akan memenuhinya. Aku akan mengirimkan tidak hanya satu utusan, tapi dua atau tiga utusan".
Setelah itu keduanya berpisah. Setelah beberapa lama malaikat itu datang kembali.
"Wahai sahabatku, apakah engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?", tanya Nabi Ya'qub
"Aku datang untuk mencabut nyawamu", jawab malaikat.
"Lalu mana ketiga utusanmu?", tanya Nabi Ya'qub lagi.
" Sudah kukirim. Putihnya rambutmu setelah hitamnya, lemahnya tubuhmu setelah kekarnya, dan membungkuknya badanmu setelah tegapnya. Wahai Ya'qub, itulah utusanku kepada setiap anak Adam.
---


Note :
Sejenak berkaca... Sudah terlihat datangkah ketiga utusan itu? Rambut yang mulai memutih satu demi satu, kerutan-kerutan yang mulai tampak disana-sini, fisik yang sudah tak sekuat dimasa muda. Itu tandanya saat untuk pergi sejengkal demi sejengkal telah mendekat. Semoga diberi kekuatan iman untuk terus mempersiapkannya, aamiin...

Selasa, 26 Juli 2011

Cinta Tak Selalu Merah Muda


Ada yang bilang cinta itu berwarna merah muda.
Tapi ketika duka menghampiri sang pecinta, masihkah ia berwarna merah muda...?

Ketika cinta menyapa diantara dua insan dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengarungi biduk rumah tangga, biasanya yang terbayang hanyalah yang indah-indah. Berharap hari yang dilalui senantiasa berwarna merah muda. Mungkin seperti ini : Berharap setiap hari "yang tercinta" membawakan coklat atau mungkin seikat bunga, mengejutkan kita dengan kartu-kartu penuh cinta atau menyiapkan 'candle light dinner' yang romantis. Hhmmmmm....Kalau memang harapan itu "pasti" akan terwujud disetiap hari yang dilalui tentu setiap insan tak perlu berpikir dua kali untuk memutuskan menikah.

Tapi ternyata roda berputar. Perjalanan cinta yang dilalui tak selamanya berwarna merah muda. Ada warna-warna lain yang silih berganti mengisi kehidupan yang dijalani. Kebahagiaan yang dinikmati kadang disusul oleh kesedihan. Suka, duka, tangis, tawa bergantian mewarnai kehidupan. Jika demikian bukan hanya warna merah muda yang menghiasi, warna kelam pun ternyata juga ikut mewarnai.

Alloh SWT menggariskan kehidupan demikian adanya. Harus ada ombak yang membuat biduk kuat menerjang gelombang. Harus ada kerikil yang membantu roda mampu mencengkeram jalanan. "Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu" (QS Ali Imran 186), begitu firman-Nya. Tapi pernahkah kita menyadari, bahwa ternyata warna kelam pun bisa mendatangkan kebaikan. Bukankah setiap kesulitan selalu membuat orang menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Keberhasilan dalam mengatasi masalah akan semakin mendewasakan kita, membuat kita lebih bijak lagi dalam melangkah bila kita mampu mengambil ibrah darinya.

Pernikahan kadang tak semudah yang kita bayangkan. Tidak sedikit yang berhenti ditengah jalan sebelum tujuan sampai. Pernikahan juga tak sesederhana yang kita harapkan. Keunikan dan kerumitan yang dialami berbeda-beda untuk setiap pasangan. Untuk itulah kita butuh kekuatan untuk menjalaninya.

Kekuatan Iman adalah kekuatan yang utama. Ketaqwaan kepada Alloh SWT adalah modal dasarnya. Semua yang dilakukan adalah benar-benar untuk niat ibadah. Senantiasa mengharap ridho-Nya, takut melanggar larangan-Nya dan berusaha menjalani perintah-Nya sebaik mungkin. Bila kekuatan ini sudah dimiliki maka tidak akan ada lagi saling menzalimi atau saling menyakiti. Bahkan sebaliknya akan timbul saling menghargai, menghormati dan senantiasa berkasih sayang diantara mereka.

Kedewasaan adalah kekuatan yang tak kalah pentingnya. Menjadi dewasa tidak sama dengan kedewasaan. Menjadi dewasa kadang tidak diiringi tingkat kedewasaan yang cukup, akibatnya sikap dan perilaku terlihat kekanakan bahkan menggelikan. Kedewasaan adalah bagaimana kita berpikir dan kemudian bersikap dalam bahasa cinta. Bagaimana kita mengubah kemarahan menjadi kesabaran, mengubah kekecewaan menjadi harapan, mengubah masalah menjadi tantangan, mengubah kesedihan menjadi pengharapan. Atau dengan kata lain bagaimana kita mengolah emosi yang timbul menjadi sesuatu yang lebih baik. Bila hal ini bisa dilakukan maka kita akan lebih bijaksana dalam menyikapi masalah yang timbul dalam pernikahan. Lebih mudah menerima kekurangan pasangan, lebih mampu memaafkan dan juga meminta maaf, dan tidak mengedepankan emosi ketika menghadapi masalah.

Cinta memang tak selalu merah muda...Justru karena inilah hidup menjadi lebih berwarna. Warna-warna lain memberi kita kesempatan untuk saling memahami dan belajar saling mencinta dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. Warna-warna lain justru yang mengajarkan pada kita agar lebih bijak menjalani hidup yang sementara ini. Pada akhirnya segala yang kita lakukan demi kebahagiaan kita tidak hanya berhenti di dunia saja, tapi insyaAlloh juga sampai di akherat kelak.

Wallahualam.

Sang Pecinta Sholat

Meski waktu subuh belum tiba, Khalifah Umar bin Khatab selalu bangun terlebih dahulu dan berkeliling membangunkan kaum muslimin untuk menunaikan sholat subuh. Ketika waktu sholat tiba, beliau sendiri yang mengatur shaf-shaf shalat dan mengimami para jamaah.

Pada shubuh itu terjadi tragedi besar dalam sejarah. Ketika khalifah mengucapkan takbiratul ikhram, tiba-tiba seorang laki-laki bernama Abu Lu'luah menikamkan sebilah pisau ke bahu, pinggang dan ke bawah pusar beliau. Darahpun menyembur. Namun khalifah yang berjuluk "Singa Padang Pasir" ini tidak bergeming dari kekhusyukannya memimpin sholat. Padahal waktu sholat masih bisa ditangguhkan beberapa saat sebelum terbitnya matahari. Sekuat apapun sang khalifah, akhirnya beliau jatuh juga. Meski demikian beliau masih sempat memerintahkan Abdurrahman bin 'Auf untuk menggantikannya sebagai imam.

Beberapa saat setelah ditikam, kesadaran dan ketidaksadaran beliau datang silih berganti. Para sahabat yang mengelilinginya demikian cemas melihat kondisi keselamatan Khalifah Umar. Salah seorang dari mereka berkata, "Kalau beliau masih hidup, tak ada yang bisa menyadarkannya selain kata-kata sholat". Lalu serentak yang hadir berkata, "Shalat wahai Amirul Mukminin. Shalat telah hampir dilaksanakan". Tiba-tiba Khalifah Umar langsung tersadar."Shalat? Kalau demikian disanalah Alloh. Tiada keberuntungan dalam Islam bagi yang meninggalkan sholat". Maka beliau melaksanakan shalat dengan darah bercucuran.


Diambil dari buku "Menjemput Maut : Bekal Perjalanan Menuju Alloh SWT - Quraish Shihab
---

Note:
Subhanalloh... Betapa besarnya kecintaan Khalifah Umar pada sholat. Tak perduli apapun keadaannya, yang ada dalam benaknya adalah tetap menegakkan sholat. Bukti betapa besar cintanya kepada Alloh SWT. Jadi merasa malu pada diri, yang kadang masih lalai dalam sholat. Semoga bisa belajar...

 ***
Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.
(QS Huud : 114)

Senin, 25 Juli 2011

Aku Mau Dipeluk !

Ariq, anak bungsuku, sebelum tidur sering minta dipeluk. "Peluk dulu, Ibu. Yang lama", begitu pintanya. Dulu, aku pikir itu hanya karena dia sangat dekat denganku, menginginkan perhatian lebih dariku. Sampai suatu hari aku bertanya padanya, "Emang kenapa adek suka minta dipeluk ?". "Enak 'aja kalau dipeluk ibu, nyaman", jawabnya ringan sambil mempererat pelukannya padaku. Mendengar jawabannya, akupun semakin mempererat pelukanku sambil menciumi wajahnya. Gemes.

Aku jadi berpikir, bahwa anakpun juga membutuhkan ungkapan cinta bukan hanya secara verbal tapi juga non verbal. Bukan hanya sering mengatakan "Ibu sayang adek", tapi dia juga memerlukan penegasan seperti dengan pelukan atau ciuman. Hal-hal manis seperti itu akan semakin meyakinkan dirinya bahwa ibunya benar-benar mencintainya, bukan hanya sekedar ucapan belaka. Dan itu yang menghadirkan rasa nyaman dalam hatinya.

Jadi teringat sebuah kisah yang menceritakan, suatu saat, Rosulullah SAW mencium Hasan bin Ali, cucu beliau. Melihat hal tersebut seorang sahabat bernama Aqra’ bin Habis At Tamimi terheran-heran. "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak tetapi tak satu pun di antara mereka pernah aku cium," kata Aqra’. Maka Rosulullah SAW memandang Aqra’ dengan penuh kasih dan bersabda, "Barang siapa tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi." (HR Bukhari)

Subhanalloh. Rosulpun ternyata telah mencontohkan betapa pentingnya ungkapan cinta. Ungkapan yang tak hanya disampaikan lewat kata tapi juga terurai jadi laku. Tak hanya mengumbar kata cinta kepada anak-anak kita, tapi lebih dari itu kita membuktikannya dengan perilaku yang mendukung seperti halnya pelukan atau ciuman. Atau mungkin juga ekspresi cinta yang lainnya. Itu yang akan menumbuhkan rasa kasih dan saling menyayangi antara orang tua dan buah hatinya. Wallahu'alam.

Sweetheart...
Ibu akan terus memelukmu. Selama apapun yang kamu inginkan...

Minggu, 24 Juli 2011

Berlomba Menuju Surga

Dikisahkan, seseorang bermimpi melihat Malik bin Dinar berlomba-lomba dengan Muhammad bin Wasi' menuju surga. Ia menyaksikan bahwa Muhammad bin Wasi' akhirnya dapat mendahului Malik bin Dinar. Orang itu kemudian bertanya mengapa demikian kejadiannya, karena menurut perkiraannya Malik bin Dinar lah yang bakal menang. Kaum shalihin menjawab bahwa ketika meninggal dunia Muhammad bin Wasi' hanya meninggalkan sepotong pakaian sedangkan Malik meninggalkan dua potong pakaian.

Jika seorang arif seperti Malik bin Dinar dapat tertinggal masuk surga hanya karena sepotong pakaian saja, lalu bagaimana dengan kita. Lemari kita penuh dengan pakaian, dan kadang kitapun masih merasa belum cukup. Masih merasa belum puas. Masih saja ingin membeli padahal pakaian di lemari sudah menumpuk dan hampir tidak muat lagi. Yah... begitulah kita manusia, terkadang keindahan dunia melenakan kita dan menjadikan kita hidup berlebih-lebihan. Sering ketika kita membeli sesuatu hanya "karena ingin" bukan "karena butuh", akibatnya berlebih-lebihan menjadi hal yang sudah biasa. Padahal hidup sederhanalah yang jauh lebih dekat dengan surga.

Wallahu'alam.
***
Makanlah sesukamu, berpakaian dan minumlah sesukamu, selama engkau terhindar dari dua hal: berlebih-lebihan dan keangkuhan.
(HR. Al Bukhari, Abdurrazzaq, Ibnu Abi Syaibah dan Al Baihaqi)
***

Shalat Wanita



Shalat yang terbaik bagi wanita adalah di rumahnya.

Dari Ibnu Umar, Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda :

لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk ke masjid, namun shalat di rumah mereka (bagi para wanita) tentu lebih baik.
--HR. Abu Daud--

Sabtu, 23 Juli 2011

Bukan Sebatas Raga

Salah satu perempuan mukmin yang aku kagumi adalah Na’ilah binti al-Furafishah. Istri terakhir Khalifah Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘anhu. Usianya 18 tahun. Tapi cintanya begitu besar kepada suaminya yang kala itu telah berusia 80 tahun. Rambut suaminya yang telah penuh uban tak pernah menurunkan kadar cintanya. Karna cinta baginya tak sebatas raga. Tak berhenti pada kulit yang keriput dan rambut yang memutih. "Aku suka ketuaanmu, sebab mudamu telah kau habiskan bersama Nabi", begitu jawabnya ketika sang suami bertanya tentang cintanya.

Bukti cintanya tak berhenti sampai di situ saja. Menjelang wafat sang Khalifah, Na'ilah pun ada di dekatnya. Bahkan beliau gugur dalam pelukannya. Tatkala kaum fasik mengepung dan ingin membunuh suaminya dengan pedang yang terhunus, Na'ilah maju ke hadapan Khalifah, menjadikan tubuhnya sebagai pelindung suaminya dari ancaman kematian. Saat pedang berkelebat ingin menebas suaminya, Na'ilah menangkisnya. Mengepalkan jari-jari tangannya, hingga jari-jainya terlepas. Keduanya jatuh bersama, kemudian mereka membunuh suaminya di depan matanya.

Sepeninggal Khalifah Utsman, Na'ilah tak bersedia menikah lagi dengan siapapun. Ketika Amirul Mu'minin Mu'awiyah ra melamarnyapun Na'ilah menolak seraya berkata, " Demi Alloh, tidak ada seorangpun yang dapat menggantikan Utsman sebagai suamiku selamanya".
Diambilnya cara yang tak lazim untuk menolak semua pinangan pria-pria lain yang ada di Jazirah Arab pada saat itu. Ia merusak dan mencakar-cakar wajahnya hingga penuh dengan luka dan berharap tak akan ada lagi pria yang mau menikahinya.

Subhanalloh... Cintanya pada suami tak terhalang pada raga yang menua. Perkataan dan perbuatannyapun selaras dengan cintanya. Cinta yang agung. Tauladan bagi setiap muslimah yang mengharap ridho-Nya.

Semoga...

Cinta


Ada salah satu syair Jalaludin Rumi yang aku suka. Cinta. Aku menangkap makna yang dalam dari situ. Mengajarkanku bagaimana menempatkan diri sebagai seorang perempuan dan juga istri. Bahwa semua telah Alloh SWT atur sedemikian rupa. Setiap laki-laki dan perempuan memiliki tugas dan tanggung jawab sendiri sesuai fitrahnya. Menuntut kesetaraan seperti halnya yang diagung-agungkan kaum feminis justru malah akan mengganggu keseimbangan yang telah Alloh SWT atur.

Cinta mengajarkan, bahwa seorang istri/suami untuk mendapatkan hak-haknya adalah dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya pada pasangannya. Itulah yang mempertemukan dua kutub jiwa. Pertemuan itulah yang membuat sepasang suami istri saling genap menggenapi, dan saling menyempurnakan.

Berlayar dalam biduk cinta selama 18 tahun ternyata masih belum cukup untuk memahami sepenuhnya. Masih harus terus belajar. Bahwa kadangkala ego dapat setiap saat mengkaramkan biduk yang sekian lama dikayuh. Memahami dan melaksanakan kewajiban, sebelum berteriak menuntut hak. Itu yang harus benar-benar dimengerti. Semoga bisa istiqomah untuk terus belajar...

Wallahu'alam.

CINTA, Jalaludin Rumi

...karena takdir itulah, setiap bagian dari dunia ini bertemu dengan pasangannya.
Dalam pandangan orang bijak, langit adalah laki-laki dan bumi adalah perempuan;
bumi memupuk apa yang telah dijatuhkan oleh langit.
Jika bumi kekurangan panas, maka langit mengirimkan panas kepadanya;
jika bumi kehilangan kesegaran dan kelembaban, langit memulihkannya.

Langit memayungi bumi, layaknya seorang suami menafkahi istrinya;
dan bumipun sibuk dengan urusan rumah tangga;
ia melahirkan, menyusui, dan merawat segala yang telah ia lahirkan.
Tak ubahnya bumi dan langit dikaruniai kecerdasan,
karena mereka melaksanakan pekerjaan mahluk yang memiliki kecerdasan.

Andaikan pasangan ini tidak mengecap kenikmatan,
mengapa mereka bersanding seperti sepasang kekasih?
Tanpa bumi, akankah pohon dan bunga bisa berkembang?
Sementara tanpa langit, akankan air dan panas bisa tersediakan?

Sebagaimana Tuhan memberikan hasrat kepada laki-laki dan perempuan
sehingga dunia menjadi terpelihara oleh kesatuan mereka...

Belajar Dari Buhlul

Suatu hari, Buhlul, salah seorang kerabat Khalifah Harun Al Rasyid tengah asyik bermain dengan anak-anaknya. Lalu datang sang Khalifah. Terjadilah dialog yang diawali pertanyaan Khalifah Harun Al Rasyid. 

"Apa yang kau lakukan?"
"Aku bermain bersama anak-anakku, dan membuat sebuah rumah dari tanah liat"
"Engkau sangat mengeherankan. Engkau tinggalkan dunia beserta isinya"
"Justru engkau sangat mengeherankan. Engkau tinggalkan akhirat beserta isinya"

Membaca kisah itu ada yang menyentak kesadaran. Bahwa terkadang begitu sedikit waktu yang aku luangkan untuk bermain dan menemani anak-anakku. Dan menghadirkan sebuah senyum di wajah mereka. Terlalu sibuk dengan diri sendiri dan lupa bahwa anak-anak masih begitu membutuhkan ibunya. Bukan hanya sekedar materi yang melimpah, tapi lebih dari itu. Pelukan. Kecupan. Usapan mesra. Kata sayang. Nasihat lembut. Bercanda. Bermain. Semua itu yang akan mengisi jiwa mereka. Menjadikan mereka pribadi penuh kasih sayang dan dekat dengan orang tuanya.

Mungkin hanya sekedar bermain sambil sesekali memberi usapan lembut di kepala mereka. Tapi setiap usapan akan semakin mendekatkan cinta mereka pada kita. Cinta yang terus menebal seiring bertambahnya setiap usapan dan perhatian yang diberikan. Dan itu akan membekas hingga mereka dewasa. Cinta tak akan meluntur meski mereka dewasa dan menua. Cinta yang akan membimbing mereka untuk selalu mengingat ibu-ayahnya. Mengingat, mencintai, dan mendoakan meski mungkin kedua orang tuanya telah tiada.

Belajar dari kisah Buhlul, bahwa anak-anak kitalah masa depan kita yang sesungguhnya. Yang akan melapangkan jalan kita menuju surga-Nya, lewat doa-doa tulus penuh cinta yang mereka panjatkan untuk kedua orang tuanya. Dan semua itu tak akan pernah terwujud, jika kita tak pernah berusaha untuk senantiasa mendekat. Memberikan waktu kita dengan penuh cinta.

Wallahu'alam.

***
waladun shalihun yad'ullah
Anak-anak sholeh/sholehah yang melantunkan doa dengan penuh cinta dari hatinya adalah harta berharga yang tak mampu tergantikan oleh doa seribu manusia sekalipun
***