Selasa, 26 Juli 2011

Cinta Tak Selalu Merah Muda


Ada yang bilang cinta itu berwarna merah muda.
Tapi ketika duka menghampiri sang pecinta, masihkah ia berwarna merah muda...?

Ketika cinta menyapa diantara dua insan dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengarungi biduk rumah tangga, biasanya yang terbayang hanyalah yang indah-indah. Berharap hari yang dilalui senantiasa berwarna merah muda. Mungkin seperti ini : Berharap setiap hari "yang tercinta" membawakan coklat atau mungkin seikat bunga, mengejutkan kita dengan kartu-kartu penuh cinta atau menyiapkan 'candle light dinner' yang romantis. Hhmmmmm....Kalau memang harapan itu "pasti" akan terwujud disetiap hari yang dilalui tentu setiap insan tak perlu berpikir dua kali untuk memutuskan menikah.

Tapi ternyata roda berputar. Perjalanan cinta yang dilalui tak selamanya berwarna merah muda. Ada warna-warna lain yang silih berganti mengisi kehidupan yang dijalani. Kebahagiaan yang dinikmati kadang disusul oleh kesedihan. Suka, duka, tangis, tawa bergantian mewarnai kehidupan. Jika demikian bukan hanya warna merah muda yang menghiasi, warna kelam pun ternyata juga ikut mewarnai.

Alloh SWT menggariskan kehidupan demikian adanya. Harus ada ombak yang membuat biduk kuat menerjang gelombang. Harus ada kerikil yang membantu roda mampu mencengkeram jalanan. "Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu" (QS Ali Imran 186), begitu firman-Nya. Tapi pernahkah kita menyadari, bahwa ternyata warna kelam pun bisa mendatangkan kebaikan. Bukankah setiap kesulitan selalu membuat orang menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Keberhasilan dalam mengatasi masalah akan semakin mendewasakan kita, membuat kita lebih bijak lagi dalam melangkah bila kita mampu mengambil ibrah darinya.

Pernikahan kadang tak semudah yang kita bayangkan. Tidak sedikit yang berhenti ditengah jalan sebelum tujuan sampai. Pernikahan juga tak sesederhana yang kita harapkan. Keunikan dan kerumitan yang dialami berbeda-beda untuk setiap pasangan. Untuk itulah kita butuh kekuatan untuk menjalaninya.

Kekuatan Iman adalah kekuatan yang utama. Ketaqwaan kepada Alloh SWT adalah modal dasarnya. Semua yang dilakukan adalah benar-benar untuk niat ibadah. Senantiasa mengharap ridho-Nya, takut melanggar larangan-Nya dan berusaha menjalani perintah-Nya sebaik mungkin. Bila kekuatan ini sudah dimiliki maka tidak akan ada lagi saling menzalimi atau saling menyakiti. Bahkan sebaliknya akan timbul saling menghargai, menghormati dan senantiasa berkasih sayang diantara mereka.

Kedewasaan adalah kekuatan yang tak kalah pentingnya. Menjadi dewasa tidak sama dengan kedewasaan. Menjadi dewasa kadang tidak diiringi tingkat kedewasaan yang cukup, akibatnya sikap dan perilaku terlihat kekanakan bahkan menggelikan. Kedewasaan adalah bagaimana kita berpikir dan kemudian bersikap dalam bahasa cinta. Bagaimana kita mengubah kemarahan menjadi kesabaran, mengubah kekecewaan menjadi harapan, mengubah masalah menjadi tantangan, mengubah kesedihan menjadi pengharapan. Atau dengan kata lain bagaimana kita mengolah emosi yang timbul menjadi sesuatu yang lebih baik. Bila hal ini bisa dilakukan maka kita akan lebih bijaksana dalam menyikapi masalah yang timbul dalam pernikahan. Lebih mudah menerima kekurangan pasangan, lebih mampu memaafkan dan juga meminta maaf, dan tidak mengedepankan emosi ketika menghadapi masalah.

Cinta memang tak selalu merah muda...Justru karena inilah hidup menjadi lebih berwarna. Warna-warna lain memberi kita kesempatan untuk saling memahami dan belajar saling mencinta dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. Warna-warna lain justru yang mengajarkan pada kita agar lebih bijak menjalani hidup yang sementara ini. Pada akhirnya segala yang kita lakukan demi kebahagiaan kita tidak hanya berhenti di dunia saja, tapi insyaAlloh juga sampai di akherat kelak.

Wallahualam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar