Sabtu, 23 Juli 2011

Bukan Sebatas Raga

Salah satu perempuan mukmin yang aku kagumi adalah Na’ilah binti al-Furafishah. Istri terakhir Khalifah Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘anhu. Usianya 18 tahun. Tapi cintanya begitu besar kepada suaminya yang kala itu telah berusia 80 tahun. Rambut suaminya yang telah penuh uban tak pernah menurunkan kadar cintanya. Karna cinta baginya tak sebatas raga. Tak berhenti pada kulit yang keriput dan rambut yang memutih. "Aku suka ketuaanmu, sebab mudamu telah kau habiskan bersama Nabi", begitu jawabnya ketika sang suami bertanya tentang cintanya.

Bukti cintanya tak berhenti sampai di situ saja. Menjelang wafat sang Khalifah, Na'ilah pun ada di dekatnya. Bahkan beliau gugur dalam pelukannya. Tatkala kaum fasik mengepung dan ingin membunuh suaminya dengan pedang yang terhunus, Na'ilah maju ke hadapan Khalifah, menjadikan tubuhnya sebagai pelindung suaminya dari ancaman kematian. Saat pedang berkelebat ingin menebas suaminya, Na'ilah menangkisnya. Mengepalkan jari-jari tangannya, hingga jari-jainya terlepas. Keduanya jatuh bersama, kemudian mereka membunuh suaminya di depan matanya.

Sepeninggal Khalifah Utsman, Na'ilah tak bersedia menikah lagi dengan siapapun. Ketika Amirul Mu'minin Mu'awiyah ra melamarnyapun Na'ilah menolak seraya berkata, " Demi Alloh, tidak ada seorangpun yang dapat menggantikan Utsman sebagai suamiku selamanya".
Diambilnya cara yang tak lazim untuk menolak semua pinangan pria-pria lain yang ada di Jazirah Arab pada saat itu. Ia merusak dan mencakar-cakar wajahnya hingga penuh dengan luka dan berharap tak akan ada lagi pria yang mau menikahinya.

Subhanalloh... Cintanya pada suami tak terhalang pada raga yang menua. Perkataan dan perbuatannyapun selaras dengan cintanya. Cinta yang agung. Tauladan bagi setiap muslimah yang mengharap ridho-Nya.

Semoga...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar