Sabtu, 30 Juli 2011

Kejujuran

Ahmad bin Fath berkata, Aku mendengar Bisyr bin Harits berkata, Pada suatu hari, Kahmis keluar dengan membawa dinar, lalu dinarnya terjatuh. Ia mencari dan menemukannya, tetapi ia meninggalkannya sembari berkata, "Bisa jadi dinar ini bukan dinarku." Dan pada hari yang lain, beliau pernah memakan ikan, lalu mengambil debu dari dinding tetangganya. Ia mencuci tangannya dengan debu tersebut, lalu ia berkata, "Semenjak empat puluh tahun yang lalu aku menangisi debu itu. Kenapa aku mengambil tanpa sepengetahuan si empunya rumah?"
(Shifatus Shafwah)

Di zaman sekarang adakah orang sejujur itu ? Mungkin ada. Tapi realita di sekitar kita berkata sebaliknya. Ke-tidakjujuran ada dimana-mana. Mengobral janji tanpa tahu artinya "menepati". Berlomba-lomba memenuhi kebutuhan duniawinya dengan cara menipu, curang, korupsi. Juga kasus tentang bagaimana anak-anak justru diajarkan tidak jujur saat ujiannya. Semuanya terlihat jelas di depan mata kita. Di televisi bahkan kita sulit membedakan mana yang benar-benar jujur dan mana yang membela diri demi menutupi ketidakjujurannya. Kejujuran menjadi seperti mata uang yang langka. Sulit ditemukan.

Sebuah kejujuran sebenarnya mencerminkan pribadi kita. Al-maru’ makhbu’un tahta lisanihi. Pribadi seseorang itu akan tampak apabila ia berbicara, apabila terucap perkataan yang baik dari lisannya maka baiklah ia, begitu pula sebaliknya. Jika seorang berlaku tidak jujur, bahkan kehilangan urat malunya saat melakukannya. bisa dibayangkan bagaimana pribadinya yang sebenarnya. Jauh dari akhlak terpuji.

Sebuah kejujuran juga akan diganjar pahala yang tak ternilai oleh-Nya. Dalam sebuah hadits dikatakan : "Kejujuran itu akan mendatangkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan membawa ke surga, dan dusta itu mendatangkan dosa, dan dosa akan membawa pelakunya ke neraka". Membaca hadits ini seorang yang bijak tentunya akan berpikir dua kali untuk melakukan sebuah ke-tidakjujuran bukan ? Besar atau kecil ke-tidakjujuran itu, malaikat tetap mencatatnya. Dan akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di akhirat.

Kejujuran seharusnya kita letakkan pada posisi luhur, laksana tiara. Ia, dalam keadaan apapun, harus ditempatkan pada posisi terhormat, terdepan, nomor satu. Sebab ia dapat membawa kita ke posisi selamat, posisi aman, baik di dunia maupun akhirat kelak. Jika seseorang tak mampu berperilaku jujur, maka muka menghitam tercoreng aib sendiri. Mungkin tak seberapa aib di dunia, tapi di hadapan-Nya ?

Semoga kita masih terus memiliki mata uang yag bernama 'kejujuran' itu. Menggenggamnya dengan kuat apapun yang terjadi. Karena dengannya kita masih bisa berjalan di muka bumi ini dengan penuh harga diri. Dan dihadapan-Nya kelak Dia akan memandang kita dengan penuh rahmat dan cinta kasih...

Wallahu a’lam bishawab

Kamis, 28 Juli 2011

Mulia Karena Cinta

Diriwayatkan dalam suatu hadits :
Bahwa seseorang mengunjungi saudaranya di desa lain, lalu Alloh SWT mengutus malaikat untuk membuntutinya. Tatkala malaikat menemaninya, malaikat berkata, "Kau mau ke mana?" Ia menjawab, "Aku ingin mengunjungi saudaraku di desa ini."
Malaikat terus bertanya, "Apakah kamu akan memberikan sesuatu kepada saudaramu?" Ia menjawab, "Tidak ada, melainkan hanya aku mencintainya karena Allah SWT." Malaikat berkata, "Sesungguhnya aku diutus Allah kepadamu, bahwa Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai orang tersebut karena-Nya"
-- HR Muslim

Jika hidup ini di ibaratkan taman, cinta adalah bunga-bunga yang senantiasa mekar silih berganti menghiasi kehidupan setiap anak manusia. Alloh SWT memberi begitu banyak kesempatan untuk mencinta. Mencintai-Nya, mencintai Rasul-Nya, mencintai orang tua, saudara, anak, suami/istri, sahabat, tetangga, dan cinta-cinta yang lainnya.

Dalam hirarki cinta, cinta kepada Alloh SWT berada di tempat tertinggi. Sedang cinta kepada selain-Nya hanyalah akan bernilai ketika cinta itu berawal dan berakhir karena Alloh SWT. Ketika semua cinta itu berhulu dan bermuara kepada-Nya tak akan ada cinta yang luka, cinta yang sakit, cinta yang patah. Karena semuanya hanya mengharap Ridho-Nya. Sakit atau luka akan kita terima dengan ikhlas karena semua kita niatkan karena-Nya. Demi cinta-Nya. Sehingga pada akhirnya cinta yang kita rasakan akan membawa pada kemuliaan, dan bukan sebaliknya malah terpuruk dan terhina karena cinta.

Agar tak sia-sia kita mencinta, adalah bijak untuk selalu meluruskan niat. Niatkan segala yang kita cintai hanya karena-Nya. Agar cinta-Nya mendatangimu dan memelukmu...

Wallahu'alam
--

Ya Alloh,
Kau tahu hati hati ini telah berkumpul dalam cinta-Mu
Bertemu dalam taat-Mu
Menyatu menolong dakwah-Mu
Berjanji perjuangkan syariat-Mu
Maka eratkan ikatannya Dan abadikan cintanya
(Syahid Hasan Al Banna)

Rabu, 27 Juli 2011

Futur

Pernah merasa futur ? Terutama dalam melaksanakan kebaikan/amalan. Aku yakin pernah. Dengan segala kelemahannya manusia tak bisa terhindar dari penyakit yang satu ini. Bahkan Zainab ra meletakkan seutas tali untuk dapat digunakan sebagai tempat bergantung jika datang masa futurnya, dikarenakan merasa malas berdiri untuk melaksanakan sholat.

Futur secara etimologi berarti : diam setelah giat dan lemah setelah semangat. Tingkatan paling rendahnya adalah rasa malas, berat, menunda-nunda atau memperlambat diri. Sedangkan puncaknya adalah terhenti sama sekali setelah sebelumnya rajin.

Menurut Ibnu Qayyim, "Saat-saat futur bagi seseorang yang beramal adalah hal wajar yang harus terjadi. Seseorang masa futurnya lebih membawa ke arah muraqabah (pengawasan oleh Alloh) dan pembenahan langkah, selama ia tidak keluar dari amal-amal fardhu dan tidak melaksanakan sesuatu yang diharamkan oleh Alloh, diharapkan ketika pulih ia akan berada dalam kondisi yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Sekalipun sebenarnya, aktivitas ibadah yang disukai Alloh adalah yang dilakukan secara rutin oleh seorang hamba tanpa terputus." (Madarij As-Salikin)

Untuk bisa menjauh dari kefuturan, perlu keinginan dan tekad yang kuat. Selain itu mengembalikan hati pada Sang penggenggam hati, memohon kekuatan untuk tetap istiqomah. Juga mengazzamkan niat (menguatkan niat) untuk kembali pada jalan kebenaran dan tidak kembali pada jalan kefuturan. Rosululloh bersabda, "Setiap amal memiliki puncaknya dan setiap puncak pasti mengalami kefuturan. Barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) pada sunnahku maka ia beruntung dan barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) kepada selain itu, maka berarti ia telah celaka." (HR Imam Ahmad)


Saat futur mulai menghinggapi alangkah lebih baik bila kita mulai kembali menata hati. Hati adalah tempat bersemayamnya kebaikan, sebagaimana dalam hadist, "Apabila ia baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya." Kebeningan hati, ketulusan iman serta keikhlasan berdoa merupakan senjata ampuh untuk mengikis future dan kembali pada semangat kebaikan.

Mungkin akan terasa berat. Bukankah terkadang jalan ke surga demikian adanya ? "Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka itu dikelilingi dengan kesenangan-kesenangan" (HR Bukhari dan Tirmidzi). Tapi seberat apapun jika surga dan juga ridho-Nya adalah harapan kita, insyaAlloh semuanya akan mudah kita lewati. SEMANGAT !

Wallahu'alam.

3 Utusan

Suatu hari, seperti dinukil oleh Syekh Abdurrahman Al Sinjari, dalam Al Buka min Khasyatillah, Nabi Ya'qub berdialog dengan malaikat pencabut nyawa.

"Aku ingin sesuatu yang harus engkau penuhi sebagai tanda persaudaraan kita", pinta Nabi Ya'qub.
"Apakah itu?", tanya malaikat maut.
"Jika ajalku telah dekat, beritahulah aku".
Malaikat itu menjawab,"Baik, aku akan memenuhinya. Aku akan mengirimkan tidak hanya satu utusan, tapi dua atau tiga utusan".
Setelah itu keduanya berpisah. Setelah beberapa lama malaikat itu datang kembali.
"Wahai sahabatku, apakah engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?", tanya Nabi Ya'qub
"Aku datang untuk mencabut nyawamu", jawab malaikat.
"Lalu mana ketiga utusanmu?", tanya Nabi Ya'qub lagi.
" Sudah kukirim. Putihnya rambutmu setelah hitamnya, lemahnya tubuhmu setelah kekarnya, dan membungkuknya badanmu setelah tegapnya. Wahai Ya'qub, itulah utusanku kepada setiap anak Adam.
---


Note :
Sejenak berkaca... Sudah terlihat datangkah ketiga utusan itu? Rambut yang mulai memutih satu demi satu, kerutan-kerutan yang mulai tampak disana-sini, fisik yang sudah tak sekuat dimasa muda. Itu tandanya saat untuk pergi sejengkal demi sejengkal telah mendekat. Semoga diberi kekuatan iman untuk terus mempersiapkannya, aamiin...

Selasa, 26 Juli 2011

Cinta Tak Selalu Merah Muda


Ada yang bilang cinta itu berwarna merah muda.
Tapi ketika duka menghampiri sang pecinta, masihkah ia berwarna merah muda...?

Ketika cinta menyapa diantara dua insan dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengarungi biduk rumah tangga, biasanya yang terbayang hanyalah yang indah-indah. Berharap hari yang dilalui senantiasa berwarna merah muda. Mungkin seperti ini : Berharap setiap hari "yang tercinta" membawakan coklat atau mungkin seikat bunga, mengejutkan kita dengan kartu-kartu penuh cinta atau menyiapkan 'candle light dinner' yang romantis. Hhmmmmm....Kalau memang harapan itu "pasti" akan terwujud disetiap hari yang dilalui tentu setiap insan tak perlu berpikir dua kali untuk memutuskan menikah.

Tapi ternyata roda berputar. Perjalanan cinta yang dilalui tak selamanya berwarna merah muda. Ada warna-warna lain yang silih berganti mengisi kehidupan yang dijalani. Kebahagiaan yang dinikmati kadang disusul oleh kesedihan. Suka, duka, tangis, tawa bergantian mewarnai kehidupan. Jika demikian bukan hanya warna merah muda yang menghiasi, warna kelam pun ternyata juga ikut mewarnai.

Alloh SWT menggariskan kehidupan demikian adanya. Harus ada ombak yang membuat biduk kuat menerjang gelombang. Harus ada kerikil yang membantu roda mampu mencengkeram jalanan. "Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu" (QS Ali Imran 186), begitu firman-Nya. Tapi pernahkah kita menyadari, bahwa ternyata warna kelam pun bisa mendatangkan kebaikan. Bukankah setiap kesulitan selalu membuat orang menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Keberhasilan dalam mengatasi masalah akan semakin mendewasakan kita, membuat kita lebih bijak lagi dalam melangkah bila kita mampu mengambil ibrah darinya.

Pernikahan kadang tak semudah yang kita bayangkan. Tidak sedikit yang berhenti ditengah jalan sebelum tujuan sampai. Pernikahan juga tak sesederhana yang kita harapkan. Keunikan dan kerumitan yang dialami berbeda-beda untuk setiap pasangan. Untuk itulah kita butuh kekuatan untuk menjalaninya.

Kekuatan Iman adalah kekuatan yang utama. Ketaqwaan kepada Alloh SWT adalah modal dasarnya. Semua yang dilakukan adalah benar-benar untuk niat ibadah. Senantiasa mengharap ridho-Nya, takut melanggar larangan-Nya dan berusaha menjalani perintah-Nya sebaik mungkin. Bila kekuatan ini sudah dimiliki maka tidak akan ada lagi saling menzalimi atau saling menyakiti. Bahkan sebaliknya akan timbul saling menghargai, menghormati dan senantiasa berkasih sayang diantara mereka.

Kedewasaan adalah kekuatan yang tak kalah pentingnya. Menjadi dewasa tidak sama dengan kedewasaan. Menjadi dewasa kadang tidak diiringi tingkat kedewasaan yang cukup, akibatnya sikap dan perilaku terlihat kekanakan bahkan menggelikan. Kedewasaan adalah bagaimana kita berpikir dan kemudian bersikap dalam bahasa cinta. Bagaimana kita mengubah kemarahan menjadi kesabaran, mengubah kekecewaan menjadi harapan, mengubah masalah menjadi tantangan, mengubah kesedihan menjadi pengharapan. Atau dengan kata lain bagaimana kita mengolah emosi yang timbul menjadi sesuatu yang lebih baik. Bila hal ini bisa dilakukan maka kita akan lebih bijaksana dalam menyikapi masalah yang timbul dalam pernikahan. Lebih mudah menerima kekurangan pasangan, lebih mampu memaafkan dan juga meminta maaf, dan tidak mengedepankan emosi ketika menghadapi masalah.

Cinta memang tak selalu merah muda...Justru karena inilah hidup menjadi lebih berwarna. Warna-warna lain memberi kita kesempatan untuk saling memahami dan belajar saling mencinta dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. Warna-warna lain justru yang mengajarkan pada kita agar lebih bijak menjalani hidup yang sementara ini. Pada akhirnya segala yang kita lakukan demi kebahagiaan kita tidak hanya berhenti di dunia saja, tapi insyaAlloh juga sampai di akherat kelak.

Wallahualam.

Sang Pecinta Sholat

Meski waktu subuh belum tiba, Khalifah Umar bin Khatab selalu bangun terlebih dahulu dan berkeliling membangunkan kaum muslimin untuk menunaikan sholat subuh. Ketika waktu sholat tiba, beliau sendiri yang mengatur shaf-shaf shalat dan mengimami para jamaah.

Pada shubuh itu terjadi tragedi besar dalam sejarah. Ketika khalifah mengucapkan takbiratul ikhram, tiba-tiba seorang laki-laki bernama Abu Lu'luah menikamkan sebilah pisau ke bahu, pinggang dan ke bawah pusar beliau. Darahpun menyembur. Namun khalifah yang berjuluk "Singa Padang Pasir" ini tidak bergeming dari kekhusyukannya memimpin sholat. Padahal waktu sholat masih bisa ditangguhkan beberapa saat sebelum terbitnya matahari. Sekuat apapun sang khalifah, akhirnya beliau jatuh juga. Meski demikian beliau masih sempat memerintahkan Abdurrahman bin 'Auf untuk menggantikannya sebagai imam.

Beberapa saat setelah ditikam, kesadaran dan ketidaksadaran beliau datang silih berganti. Para sahabat yang mengelilinginya demikian cemas melihat kondisi keselamatan Khalifah Umar. Salah seorang dari mereka berkata, "Kalau beliau masih hidup, tak ada yang bisa menyadarkannya selain kata-kata sholat". Lalu serentak yang hadir berkata, "Shalat wahai Amirul Mukminin. Shalat telah hampir dilaksanakan". Tiba-tiba Khalifah Umar langsung tersadar."Shalat? Kalau demikian disanalah Alloh. Tiada keberuntungan dalam Islam bagi yang meninggalkan sholat". Maka beliau melaksanakan shalat dengan darah bercucuran.


Diambil dari buku "Menjemput Maut : Bekal Perjalanan Menuju Alloh SWT - Quraish Shihab
---

Note:
Subhanalloh... Betapa besarnya kecintaan Khalifah Umar pada sholat. Tak perduli apapun keadaannya, yang ada dalam benaknya adalah tetap menegakkan sholat. Bukti betapa besar cintanya kepada Alloh SWT. Jadi merasa malu pada diri, yang kadang masih lalai dalam sholat. Semoga bisa belajar...

 ***
Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.
(QS Huud : 114)

Senin, 25 Juli 2011

Aku Mau Dipeluk !

Ariq, anak bungsuku, sebelum tidur sering minta dipeluk. "Peluk dulu, Ibu. Yang lama", begitu pintanya. Dulu, aku pikir itu hanya karena dia sangat dekat denganku, menginginkan perhatian lebih dariku. Sampai suatu hari aku bertanya padanya, "Emang kenapa adek suka minta dipeluk ?". "Enak 'aja kalau dipeluk ibu, nyaman", jawabnya ringan sambil mempererat pelukannya padaku. Mendengar jawabannya, akupun semakin mempererat pelukanku sambil menciumi wajahnya. Gemes.

Aku jadi berpikir, bahwa anakpun juga membutuhkan ungkapan cinta bukan hanya secara verbal tapi juga non verbal. Bukan hanya sering mengatakan "Ibu sayang adek", tapi dia juga memerlukan penegasan seperti dengan pelukan atau ciuman. Hal-hal manis seperti itu akan semakin meyakinkan dirinya bahwa ibunya benar-benar mencintainya, bukan hanya sekedar ucapan belaka. Dan itu yang menghadirkan rasa nyaman dalam hatinya.

Jadi teringat sebuah kisah yang menceritakan, suatu saat, Rosulullah SAW mencium Hasan bin Ali, cucu beliau. Melihat hal tersebut seorang sahabat bernama Aqra’ bin Habis At Tamimi terheran-heran. "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak tetapi tak satu pun di antara mereka pernah aku cium," kata Aqra’. Maka Rosulullah SAW memandang Aqra’ dengan penuh kasih dan bersabda, "Barang siapa tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi." (HR Bukhari)

Subhanalloh. Rosulpun ternyata telah mencontohkan betapa pentingnya ungkapan cinta. Ungkapan yang tak hanya disampaikan lewat kata tapi juga terurai jadi laku. Tak hanya mengumbar kata cinta kepada anak-anak kita, tapi lebih dari itu kita membuktikannya dengan perilaku yang mendukung seperti halnya pelukan atau ciuman. Atau mungkin juga ekspresi cinta yang lainnya. Itu yang akan menumbuhkan rasa kasih dan saling menyayangi antara orang tua dan buah hatinya. Wallahu'alam.

Sweetheart...
Ibu akan terus memelukmu. Selama apapun yang kamu inginkan...

Minggu, 24 Juli 2011

Berlomba Menuju Surga

Dikisahkan, seseorang bermimpi melihat Malik bin Dinar berlomba-lomba dengan Muhammad bin Wasi' menuju surga. Ia menyaksikan bahwa Muhammad bin Wasi' akhirnya dapat mendahului Malik bin Dinar. Orang itu kemudian bertanya mengapa demikian kejadiannya, karena menurut perkiraannya Malik bin Dinar lah yang bakal menang. Kaum shalihin menjawab bahwa ketika meninggal dunia Muhammad bin Wasi' hanya meninggalkan sepotong pakaian sedangkan Malik meninggalkan dua potong pakaian.

Jika seorang arif seperti Malik bin Dinar dapat tertinggal masuk surga hanya karena sepotong pakaian saja, lalu bagaimana dengan kita. Lemari kita penuh dengan pakaian, dan kadang kitapun masih merasa belum cukup. Masih merasa belum puas. Masih saja ingin membeli padahal pakaian di lemari sudah menumpuk dan hampir tidak muat lagi. Yah... begitulah kita manusia, terkadang keindahan dunia melenakan kita dan menjadikan kita hidup berlebih-lebihan. Sering ketika kita membeli sesuatu hanya "karena ingin" bukan "karena butuh", akibatnya berlebih-lebihan menjadi hal yang sudah biasa. Padahal hidup sederhanalah yang jauh lebih dekat dengan surga.

Wallahu'alam.
***
Makanlah sesukamu, berpakaian dan minumlah sesukamu, selama engkau terhindar dari dua hal: berlebih-lebihan dan keangkuhan.
(HR. Al Bukhari, Abdurrazzaq, Ibnu Abi Syaibah dan Al Baihaqi)
***

Shalat Wanita



Shalat yang terbaik bagi wanita adalah di rumahnya.

Dari Ibnu Umar, Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda :

لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk ke masjid, namun shalat di rumah mereka (bagi para wanita) tentu lebih baik.
--HR. Abu Daud--

Sabtu, 23 Juli 2011

Bukan Sebatas Raga

Salah satu perempuan mukmin yang aku kagumi adalah Na’ilah binti al-Furafishah. Istri terakhir Khalifah Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘anhu. Usianya 18 tahun. Tapi cintanya begitu besar kepada suaminya yang kala itu telah berusia 80 tahun. Rambut suaminya yang telah penuh uban tak pernah menurunkan kadar cintanya. Karna cinta baginya tak sebatas raga. Tak berhenti pada kulit yang keriput dan rambut yang memutih. "Aku suka ketuaanmu, sebab mudamu telah kau habiskan bersama Nabi", begitu jawabnya ketika sang suami bertanya tentang cintanya.

Bukti cintanya tak berhenti sampai di situ saja. Menjelang wafat sang Khalifah, Na'ilah pun ada di dekatnya. Bahkan beliau gugur dalam pelukannya. Tatkala kaum fasik mengepung dan ingin membunuh suaminya dengan pedang yang terhunus, Na'ilah maju ke hadapan Khalifah, menjadikan tubuhnya sebagai pelindung suaminya dari ancaman kematian. Saat pedang berkelebat ingin menebas suaminya, Na'ilah menangkisnya. Mengepalkan jari-jari tangannya, hingga jari-jainya terlepas. Keduanya jatuh bersama, kemudian mereka membunuh suaminya di depan matanya.

Sepeninggal Khalifah Utsman, Na'ilah tak bersedia menikah lagi dengan siapapun. Ketika Amirul Mu'minin Mu'awiyah ra melamarnyapun Na'ilah menolak seraya berkata, " Demi Alloh, tidak ada seorangpun yang dapat menggantikan Utsman sebagai suamiku selamanya".
Diambilnya cara yang tak lazim untuk menolak semua pinangan pria-pria lain yang ada di Jazirah Arab pada saat itu. Ia merusak dan mencakar-cakar wajahnya hingga penuh dengan luka dan berharap tak akan ada lagi pria yang mau menikahinya.

Subhanalloh... Cintanya pada suami tak terhalang pada raga yang menua. Perkataan dan perbuatannyapun selaras dengan cintanya. Cinta yang agung. Tauladan bagi setiap muslimah yang mengharap ridho-Nya.

Semoga...

Cinta


Ada salah satu syair Jalaludin Rumi yang aku suka. Cinta. Aku menangkap makna yang dalam dari situ. Mengajarkanku bagaimana menempatkan diri sebagai seorang perempuan dan juga istri. Bahwa semua telah Alloh SWT atur sedemikian rupa. Setiap laki-laki dan perempuan memiliki tugas dan tanggung jawab sendiri sesuai fitrahnya. Menuntut kesetaraan seperti halnya yang diagung-agungkan kaum feminis justru malah akan mengganggu keseimbangan yang telah Alloh SWT atur.

Cinta mengajarkan, bahwa seorang istri/suami untuk mendapatkan hak-haknya adalah dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya pada pasangannya. Itulah yang mempertemukan dua kutub jiwa. Pertemuan itulah yang membuat sepasang suami istri saling genap menggenapi, dan saling menyempurnakan.

Berlayar dalam biduk cinta selama 18 tahun ternyata masih belum cukup untuk memahami sepenuhnya. Masih harus terus belajar. Bahwa kadangkala ego dapat setiap saat mengkaramkan biduk yang sekian lama dikayuh. Memahami dan melaksanakan kewajiban, sebelum berteriak menuntut hak. Itu yang harus benar-benar dimengerti. Semoga bisa istiqomah untuk terus belajar...

Wallahu'alam.

CINTA, Jalaludin Rumi

...karena takdir itulah, setiap bagian dari dunia ini bertemu dengan pasangannya.
Dalam pandangan orang bijak, langit adalah laki-laki dan bumi adalah perempuan;
bumi memupuk apa yang telah dijatuhkan oleh langit.
Jika bumi kekurangan panas, maka langit mengirimkan panas kepadanya;
jika bumi kehilangan kesegaran dan kelembaban, langit memulihkannya.

Langit memayungi bumi, layaknya seorang suami menafkahi istrinya;
dan bumipun sibuk dengan urusan rumah tangga;
ia melahirkan, menyusui, dan merawat segala yang telah ia lahirkan.
Tak ubahnya bumi dan langit dikaruniai kecerdasan,
karena mereka melaksanakan pekerjaan mahluk yang memiliki kecerdasan.

Andaikan pasangan ini tidak mengecap kenikmatan,
mengapa mereka bersanding seperti sepasang kekasih?
Tanpa bumi, akankah pohon dan bunga bisa berkembang?
Sementara tanpa langit, akankan air dan panas bisa tersediakan?

Sebagaimana Tuhan memberikan hasrat kepada laki-laki dan perempuan
sehingga dunia menjadi terpelihara oleh kesatuan mereka...

Belajar Dari Buhlul

Suatu hari, Buhlul, salah seorang kerabat Khalifah Harun Al Rasyid tengah asyik bermain dengan anak-anaknya. Lalu datang sang Khalifah. Terjadilah dialog yang diawali pertanyaan Khalifah Harun Al Rasyid. 

"Apa yang kau lakukan?"
"Aku bermain bersama anak-anakku, dan membuat sebuah rumah dari tanah liat"
"Engkau sangat mengeherankan. Engkau tinggalkan dunia beserta isinya"
"Justru engkau sangat mengeherankan. Engkau tinggalkan akhirat beserta isinya"

Membaca kisah itu ada yang menyentak kesadaran. Bahwa terkadang begitu sedikit waktu yang aku luangkan untuk bermain dan menemani anak-anakku. Dan menghadirkan sebuah senyum di wajah mereka. Terlalu sibuk dengan diri sendiri dan lupa bahwa anak-anak masih begitu membutuhkan ibunya. Bukan hanya sekedar materi yang melimpah, tapi lebih dari itu. Pelukan. Kecupan. Usapan mesra. Kata sayang. Nasihat lembut. Bercanda. Bermain. Semua itu yang akan mengisi jiwa mereka. Menjadikan mereka pribadi penuh kasih sayang dan dekat dengan orang tuanya.

Mungkin hanya sekedar bermain sambil sesekali memberi usapan lembut di kepala mereka. Tapi setiap usapan akan semakin mendekatkan cinta mereka pada kita. Cinta yang terus menebal seiring bertambahnya setiap usapan dan perhatian yang diberikan. Dan itu akan membekas hingga mereka dewasa. Cinta tak akan meluntur meski mereka dewasa dan menua. Cinta yang akan membimbing mereka untuk selalu mengingat ibu-ayahnya. Mengingat, mencintai, dan mendoakan meski mungkin kedua orang tuanya telah tiada.

Belajar dari kisah Buhlul, bahwa anak-anak kitalah masa depan kita yang sesungguhnya. Yang akan melapangkan jalan kita menuju surga-Nya, lewat doa-doa tulus penuh cinta yang mereka panjatkan untuk kedua orang tuanya. Dan semua itu tak akan pernah terwujud, jika kita tak pernah berusaha untuk senantiasa mendekat. Memberikan waktu kita dengan penuh cinta.

Wallahu'alam.

***
waladun shalihun yad'ullah
Anak-anak sholeh/sholehah yang melantunkan doa dengan penuh cinta dari hatinya adalah harta berharga yang tak mampu tergantikan oleh doa seribu manusia sekalipun
***