Tampilkan postingan dengan label Istri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Istri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Oktober 2011

Ingin Dimengerti

Suatu ketika sepasang pengantin baru berjalan-jalan menikmati indahnya perkampungan yang masih belum tersentuh bising dan aroma kota. Ketika mereka bercanda, tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan “Kwek...kwek...kwek”

“Dengar sayang, ada ayam”, kata istrinya

“Bukan..bukan, itu suara bebek”, kata suaminya.

“Nggak, itu suara ayam”, istrinya bersikeras.

“Istriku..itu suara bebek, suara ayam itu bunyinya kukururyuuuuk, kalau bebek itu ya kwek...kwek...kwek, nah itu bebek sayang, bukan ayam“, kata suaminya mencoba menjelaskan.

“Nggak, aku yakin itu suara ayam”, kata istrinya.

“Sayang, itu bebek, kamu ini..kamuuuuuuuu”, suaminya agak kesal. 

Seketika itu basahlah pipi istrinya, dia menangis sambil tersendu tapi tetap berkata, 

“Aku yakin itu ayam, bukan bebek”, ucapnya pilu.

Kemudian sang suami tersadar tak mau ribut lagi dan berkata, 

“Ya kamu benar sayang, itu suara ayam”. Suaminya berucap bersamaan dengan suara dari kejauhan ..kwek...kwek...kwek...


die dari milis


My Note :
Seharusnya cinta selalu mau mengerti. Apalagi hanya untuk hal-hal yang kecil, sepele dan tidak penting. Tapi terkadang kita malahan meributkan sesuatu yang tidak perlu. Sedikit demi sedikit pertengkaran-pertengkaran kecil terkumpul, menumpuk menjadi gunung es, dan tak mustahil akan meledak menjadi permasalahan besar yang akan membawa perpisahan. Tak apa mengalah demi keharmonisan cinta, demi seseorang yang dicintai. Karena terkadang perempuan sering berbuat sesuatu yang merepotkan dan bikin pusing. Asal tahu saja, tak ada maksud untuk merepotkan dan bikin pusing. Terkadang perempuan hanya ingin dimengerti...:)

Sebaik-baik kalian ialah orang yang paling baik perilakunya terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik dari kalian dalam memperlakukan istriku.
 (HR. At Tirmizi dan dishahihkan oleh Al Albani)



Selasa, 26 Juli 2011

Cinta Tak Selalu Merah Muda


Ada yang bilang cinta itu berwarna merah muda.
Tapi ketika duka menghampiri sang pecinta, masihkah ia berwarna merah muda...?

Ketika cinta menyapa diantara dua insan dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengarungi biduk rumah tangga, biasanya yang terbayang hanyalah yang indah-indah. Berharap hari yang dilalui senantiasa berwarna merah muda. Mungkin seperti ini : Berharap setiap hari "yang tercinta" membawakan coklat atau mungkin seikat bunga, mengejutkan kita dengan kartu-kartu penuh cinta atau menyiapkan 'candle light dinner' yang romantis. Hhmmmmm....Kalau memang harapan itu "pasti" akan terwujud disetiap hari yang dilalui tentu setiap insan tak perlu berpikir dua kali untuk memutuskan menikah.

Tapi ternyata roda berputar. Perjalanan cinta yang dilalui tak selamanya berwarna merah muda. Ada warna-warna lain yang silih berganti mengisi kehidupan yang dijalani. Kebahagiaan yang dinikmati kadang disusul oleh kesedihan. Suka, duka, tangis, tawa bergantian mewarnai kehidupan. Jika demikian bukan hanya warna merah muda yang menghiasi, warna kelam pun ternyata juga ikut mewarnai.

Alloh SWT menggariskan kehidupan demikian adanya. Harus ada ombak yang membuat biduk kuat menerjang gelombang. Harus ada kerikil yang membantu roda mampu mencengkeram jalanan. "Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu" (QS Ali Imran 186), begitu firman-Nya. Tapi pernahkah kita menyadari, bahwa ternyata warna kelam pun bisa mendatangkan kebaikan. Bukankah setiap kesulitan selalu membuat orang menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Keberhasilan dalam mengatasi masalah akan semakin mendewasakan kita, membuat kita lebih bijak lagi dalam melangkah bila kita mampu mengambil ibrah darinya.

Pernikahan kadang tak semudah yang kita bayangkan. Tidak sedikit yang berhenti ditengah jalan sebelum tujuan sampai. Pernikahan juga tak sesederhana yang kita harapkan. Keunikan dan kerumitan yang dialami berbeda-beda untuk setiap pasangan. Untuk itulah kita butuh kekuatan untuk menjalaninya.

Kekuatan Iman adalah kekuatan yang utama. Ketaqwaan kepada Alloh SWT adalah modal dasarnya. Semua yang dilakukan adalah benar-benar untuk niat ibadah. Senantiasa mengharap ridho-Nya, takut melanggar larangan-Nya dan berusaha menjalani perintah-Nya sebaik mungkin. Bila kekuatan ini sudah dimiliki maka tidak akan ada lagi saling menzalimi atau saling menyakiti. Bahkan sebaliknya akan timbul saling menghargai, menghormati dan senantiasa berkasih sayang diantara mereka.

Kedewasaan adalah kekuatan yang tak kalah pentingnya. Menjadi dewasa tidak sama dengan kedewasaan. Menjadi dewasa kadang tidak diiringi tingkat kedewasaan yang cukup, akibatnya sikap dan perilaku terlihat kekanakan bahkan menggelikan. Kedewasaan adalah bagaimana kita berpikir dan kemudian bersikap dalam bahasa cinta. Bagaimana kita mengubah kemarahan menjadi kesabaran, mengubah kekecewaan menjadi harapan, mengubah masalah menjadi tantangan, mengubah kesedihan menjadi pengharapan. Atau dengan kata lain bagaimana kita mengolah emosi yang timbul menjadi sesuatu yang lebih baik. Bila hal ini bisa dilakukan maka kita akan lebih bijaksana dalam menyikapi masalah yang timbul dalam pernikahan. Lebih mudah menerima kekurangan pasangan, lebih mampu memaafkan dan juga meminta maaf, dan tidak mengedepankan emosi ketika menghadapi masalah.

Cinta memang tak selalu merah muda...Justru karena inilah hidup menjadi lebih berwarna. Warna-warna lain memberi kita kesempatan untuk saling memahami dan belajar saling mencinta dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. Warna-warna lain justru yang mengajarkan pada kita agar lebih bijak menjalani hidup yang sementara ini. Pada akhirnya segala yang kita lakukan demi kebahagiaan kita tidak hanya berhenti di dunia saja, tapi insyaAlloh juga sampai di akherat kelak.

Wallahualam.

Sabtu, 23 Juli 2011

Cinta


Ada salah satu syair Jalaludin Rumi yang aku suka. Cinta. Aku menangkap makna yang dalam dari situ. Mengajarkanku bagaimana menempatkan diri sebagai seorang perempuan dan juga istri. Bahwa semua telah Alloh SWT atur sedemikian rupa. Setiap laki-laki dan perempuan memiliki tugas dan tanggung jawab sendiri sesuai fitrahnya. Menuntut kesetaraan seperti halnya yang diagung-agungkan kaum feminis justru malah akan mengganggu keseimbangan yang telah Alloh SWT atur.

Cinta mengajarkan, bahwa seorang istri/suami untuk mendapatkan hak-haknya adalah dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya pada pasangannya. Itulah yang mempertemukan dua kutub jiwa. Pertemuan itulah yang membuat sepasang suami istri saling genap menggenapi, dan saling menyempurnakan.

Berlayar dalam biduk cinta selama 18 tahun ternyata masih belum cukup untuk memahami sepenuhnya. Masih harus terus belajar. Bahwa kadangkala ego dapat setiap saat mengkaramkan biduk yang sekian lama dikayuh. Memahami dan melaksanakan kewajiban, sebelum berteriak menuntut hak. Itu yang harus benar-benar dimengerti. Semoga bisa istiqomah untuk terus belajar...

Wallahu'alam.

CINTA, Jalaludin Rumi

...karena takdir itulah, setiap bagian dari dunia ini bertemu dengan pasangannya.
Dalam pandangan orang bijak, langit adalah laki-laki dan bumi adalah perempuan;
bumi memupuk apa yang telah dijatuhkan oleh langit.
Jika bumi kekurangan panas, maka langit mengirimkan panas kepadanya;
jika bumi kehilangan kesegaran dan kelembaban, langit memulihkannya.

Langit memayungi bumi, layaknya seorang suami menafkahi istrinya;
dan bumipun sibuk dengan urusan rumah tangga;
ia melahirkan, menyusui, dan merawat segala yang telah ia lahirkan.
Tak ubahnya bumi dan langit dikaruniai kecerdasan,
karena mereka melaksanakan pekerjaan mahluk yang memiliki kecerdasan.

Andaikan pasangan ini tidak mengecap kenikmatan,
mengapa mereka bersanding seperti sepasang kekasih?
Tanpa bumi, akankah pohon dan bunga bisa berkembang?
Sementara tanpa langit, akankan air dan panas bisa tersediakan?

Sebagaimana Tuhan memberikan hasrat kepada laki-laki dan perempuan
sehingga dunia menjadi terpelihara oleh kesatuan mereka...