Sabtu, 23 Juli 2011

Belajar Dari Buhlul

Suatu hari, Buhlul, salah seorang kerabat Khalifah Harun Al Rasyid tengah asyik bermain dengan anak-anaknya. Lalu datang sang Khalifah. Terjadilah dialog yang diawali pertanyaan Khalifah Harun Al Rasyid. 

"Apa yang kau lakukan?"
"Aku bermain bersama anak-anakku, dan membuat sebuah rumah dari tanah liat"
"Engkau sangat mengeherankan. Engkau tinggalkan dunia beserta isinya"
"Justru engkau sangat mengeherankan. Engkau tinggalkan akhirat beserta isinya"

Membaca kisah itu ada yang menyentak kesadaran. Bahwa terkadang begitu sedikit waktu yang aku luangkan untuk bermain dan menemani anak-anakku. Dan menghadirkan sebuah senyum di wajah mereka. Terlalu sibuk dengan diri sendiri dan lupa bahwa anak-anak masih begitu membutuhkan ibunya. Bukan hanya sekedar materi yang melimpah, tapi lebih dari itu. Pelukan. Kecupan. Usapan mesra. Kata sayang. Nasihat lembut. Bercanda. Bermain. Semua itu yang akan mengisi jiwa mereka. Menjadikan mereka pribadi penuh kasih sayang dan dekat dengan orang tuanya.

Mungkin hanya sekedar bermain sambil sesekali memberi usapan lembut di kepala mereka. Tapi setiap usapan akan semakin mendekatkan cinta mereka pada kita. Cinta yang terus menebal seiring bertambahnya setiap usapan dan perhatian yang diberikan. Dan itu akan membekas hingga mereka dewasa. Cinta tak akan meluntur meski mereka dewasa dan menua. Cinta yang akan membimbing mereka untuk selalu mengingat ibu-ayahnya. Mengingat, mencintai, dan mendoakan meski mungkin kedua orang tuanya telah tiada.

Belajar dari kisah Buhlul, bahwa anak-anak kitalah masa depan kita yang sesungguhnya. Yang akan melapangkan jalan kita menuju surga-Nya, lewat doa-doa tulus penuh cinta yang mereka panjatkan untuk kedua orang tuanya. Dan semua itu tak akan pernah terwujud, jika kita tak pernah berusaha untuk senantiasa mendekat. Memberikan waktu kita dengan penuh cinta.

Wallahu'alam.

***
waladun shalihun yad'ullah
Anak-anak sholeh/sholehah yang melantunkan doa dengan penuh cinta dari hatinya adalah harta berharga yang tak mampu tergantikan oleh doa seribu manusia sekalipun
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar