Sabtu, 30 Juli 2011

Kejujuran

Ahmad bin Fath berkata, Aku mendengar Bisyr bin Harits berkata, Pada suatu hari, Kahmis keluar dengan membawa dinar, lalu dinarnya terjatuh. Ia mencari dan menemukannya, tetapi ia meninggalkannya sembari berkata, "Bisa jadi dinar ini bukan dinarku." Dan pada hari yang lain, beliau pernah memakan ikan, lalu mengambil debu dari dinding tetangganya. Ia mencuci tangannya dengan debu tersebut, lalu ia berkata, "Semenjak empat puluh tahun yang lalu aku menangisi debu itu. Kenapa aku mengambil tanpa sepengetahuan si empunya rumah?"
(Shifatus Shafwah)

Di zaman sekarang adakah orang sejujur itu ? Mungkin ada. Tapi realita di sekitar kita berkata sebaliknya. Ke-tidakjujuran ada dimana-mana. Mengobral janji tanpa tahu artinya "menepati". Berlomba-lomba memenuhi kebutuhan duniawinya dengan cara menipu, curang, korupsi. Juga kasus tentang bagaimana anak-anak justru diajarkan tidak jujur saat ujiannya. Semuanya terlihat jelas di depan mata kita. Di televisi bahkan kita sulit membedakan mana yang benar-benar jujur dan mana yang membela diri demi menutupi ketidakjujurannya. Kejujuran menjadi seperti mata uang yang langka. Sulit ditemukan.

Sebuah kejujuran sebenarnya mencerminkan pribadi kita. Al-maru’ makhbu’un tahta lisanihi. Pribadi seseorang itu akan tampak apabila ia berbicara, apabila terucap perkataan yang baik dari lisannya maka baiklah ia, begitu pula sebaliknya. Jika seorang berlaku tidak jujur, bahkan kehilangan urat malunya saat melakukannya. bisa dibayangkan bagaimana pribadinya yang sebenarnya. Jauh dari akhlak terpuji.

Sebuah kejujuran juga akan diganjar pahala yang tak ternilai oleh-Nya. Dalam sebuah hadits dikatakan : "Kejujuran itu akan mendatangkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan membawa ke surga, dan dusta itu mendatangkan dosa, dan dosa akan membawa pelakunya ke neraka". Membaca hadits ini seorang yang bijak tentunya akan berpikir dua kali untuk melakukan sebuah ke-tidakjujuran bukan ? Besar atau kecil ke-tidakjujuran itu, malaikat tetap mencatatnya. Dan akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di akhirat.

Kejujuran seharusnya kita letakkan pada posisi luhur, laksana tiara. Ia, dalam keadaan apapun, harus ditempatkan pada posisi terhormat, terdepan, nomor satu. Sebab ia dapat membawa kita ke posisi selamat, posisi aman, baik di dunia maupun akhirat kelak. Jika seseorang tak mampu berperilaku jujur, maka muka menghitam tercoreng aib sendiri. Mungkin tak seberapa aib di dunia, tapi di hadapan-Nya ?

Semoga kita masih terus memiliki mata uang yag bernama 'kejujuran' itu. Menggenggamnya dengan kuat apapun yang terjadi. Karena dengannya kita masih bisa berjalan di muka bumi ini dengan penuh harga diri. Dan dihadapan-Nya kelak Dia akan memandang kita dengan penuh rahmat dan cinta kasih...

Wallahu a’lam bishawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar