Rabu, 27 Juli 2011

Futur

Pernah merasa futur ? Terutama dalam melaksanakan kebaikan/amalan. Aku yakin pernah. Dengan segala kelemahannya manusia tak bisa terhindar dari penyakit yang satu ini. Bahkan Zainab ra meletakkan seutas tali untuk dapat digunakan sebagai tempat bergantung jika datang masa futurnya, dikarenakan merasa malas berdiri untuk melaksanakan sholat.

Futur secara etimologi berarti : diam setelah giat dan lemah setelah semangat. Tingkatan paling rendahnya adalah rasa malas, berat, menunda-nunda atau memperlambat diri. Sedangkan puncaknya adalah terhenti sama sekali setelah sebelumnya rajin.

Menurut Ibnu Qayyim, "Saat-saat futur bagi seseorang yang beramal adalah hal wajar yang harus terjadi. Seseorang masa futurnya lebih membawa ke arah muraqabah (pengawasan oleh Alloh) dan pembenahan langkah, selama ia tidak keluar dari amal-amal fardhu dan tidak melaksanakan sesuatu yang diharamkan oleh Alloh, diharapkan ketika pulih ia akan berada dalam kondisi yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Sekalipun sebenarnya, aktivitas ibadah yang disukai Alloh adalah yang dilakukan secara rutin oleh seorang hamba tanpa terputus." (Madarij As-Salikin)

Untuk bisa menjauh dari kefuturan, perlu keinginan dan tekad yang kuat. Selain itu mengembalikan hati pada Sang penggenggam hati, memohon kekuatan untuk tetap istiqomah. Juga mengazzamkan niat (menguatkan niat) untuk kembali pada jalan kebenaran dan tidak kembali pada jalan kefuturan. Rosululloh bersabda, "Setiap amal memiliki puncaknya dan setiap puncak pasti mengalami kefuturan. Barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) pada sunnahku maka ia beruntung dan barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) kepada selain itu, maka berarti ia telah celaka." (HR Imam Ahmad)


Saat futur mulai menghinggapi alangkah lebih baik bila kita mulai kembali menata hati. Hati adalah tempat bersemayamnya kebaikan, sebagaimana dalam hadist, "Apabila ia baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya." Kebeningan hati, ketulusan iman serta keikhlasan berdoa merupakan senjata ampuh untuk mengikis future dan kembali pada semangat kebaikan.

Mungkin akan terasa berat. Bukankah terkadang jalan ke surga demikian adanya ? "Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka itu dikelilingi dengan kesenangan-kesenangan" (HR Bukhari dan Tirmidzi). Tapi seberat apapun jika surga dan juga ridho-Nya adalah harapan kita, insyaAlloh semuanya akan mudah kita lewati. SEMANGAT !

Wallahu'alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar