Sabtu, 06 Agustus 2011

Al Hikam

Sekilas tentang kitab Al Hikam :
  • Al Hikam adalah kitab yang ditulis Syaikh Ibnu 'Athaillah As-Sukandari Asy-Syadzili.
  • Merupakan salah satu panduan filosofis untuk meluruskan & meneguhkan keimanan.
  • Kitab ini dipergunakan secara umum oleh para penempuh jalan spiritual dari thariqoh yang manapun. Dan dipandang sebagai rujukan yang amat luar biasa manfaat dan menggerakkkan untuk mensucikan diri meraih tauhid yang hakiki.
  • Kitab ini mengajarkan ma'rifat (berada pada wilayah hati). Kitab ini cenderung berada di wilayah hakikat, bukan syari'at.
  • Kitab ini tidak dipergunakan oleh para pemula. Para sufi mempergunakannya untuk panduan para murid lanjutan.
  • Untuk memahami  kitab ini dengan baik memerlukan pemahaman pendahuluan. Juga memerlukan guru yang memang memahami dan mengamalkannya.
  • Banyak ungkapan hikmah dalam kitab ini yang tidak boleh dipahami leterlek tekstual. Ungkapan-ungkapannya harus dipahami dengan perenungan dan kedalaman hati. Yang diawali dengan keinsyafan sebagai hamba yang penuh kekurangan. Tanpa itu ada kemungkinan ungkapan yang disampaikan akan disalahpahami.
Wallahu'alam

Beberapa nasehat Ibnu Athaillah yang terdapat dalam kitab Al Hikam :
  • Tak terjadinya sesuatu yang dijanjikan, padahal waktunya telah tiba, janganlah sampai membuatmu ragu terhadap janji Alloh itu. Supaya yang demikian tidak mengaburkan pandangan mata batinmu dan memadamkan cahaya relung hatimu.
  • Apabila engkau ingin Alloh membukakan pintu pengharapan, maka perhatikanlah apa yang Dia berikan kepadamu.
  • Alloh melapangkan keadaanmu agar engkau tidak tetap dalam kesempitan, dan Alloh menyempitkan keadaanmu agar engkau tidak terus dalam kelapangan, dan Dia melepaskanmu dari keduanya agar engkau terbebas dari sesuatu selain-Nya.
  • Cinta sejati itu menyembuhkan. Bukan menyakitkan.
  • Di dalam shalat terbentang luas medan rahasia Alloh dan muncul darinya kilau cahaya-Nya.
  • Bagaimana mungkin segala sesuatu akan mampu menghalangi-Nya, jika Dia lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu itu sendiri ?
  • Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab tiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam, maka tidak sempurna hasil buahnya.
  • Tiada sesuatu yang sangat berguna bagi hati (jiwa), sebagaimana menyendiri untuk masuk ke medan berfikir (tafakur).
  • Penolakan dari Alloh terasa pedih bagimu hanya karena engkau tak mengerti rahmat Alloh di balik penolakan itu.
  • Singkatnya perjalanan yang sesungguhnya adalah bila jarak dunia dilipat untukmu sehingga engkau dapat melihat akhirat lebih dekat kepadamu ketimbang dirimu sendiri.
  • Sebaik-baik waktumu adalah kapan engkau menyadari kekuranganmu, dan engkau pun kembali mengakui kerendahanmu.
  • Cahaya adalah tentara kalbu sebagaimana kegelapan adalah tentara nafsu. Ketika Alloh hendak menolong hamba-Nya, Dia membantunya dengan tentara cahaya dan memutus bantuan kegelapan dan kepalsuan.
  • Sebaik-baik permohonan yang harusnya engkau ajukan kepada Alloh adalah apa yang dituntut Alloh untuk engkau lakukan.
  • Tidak tumbuh dahan-dahan kehinaan kecuali dari benih-benih ketamakan.
  • Siapa tidak mensyukuri nikmat, berarti menginginkan hilangnya. Dan siapa mensyukurinya, berarti telah secara kuat mengikatnya.
  • Di antara tanda matinya hati adalah tidak adanya perasaan sedih atas kesempatan beramal yang engkau lewatkan dan tidak adanya penyesalan atas pelanggaran yang engkau lakukan.
  • Tugas cahaya adalah menyingkap tabir, tugas mata batin menetapkan hukum, sedangkan tugas hati menghadapi atau membelakangi.
  • Cahaya adalah kendaraan hati dan relung batin.
  • Jangan tinggalkan zikir lantaran tidak bisa berkonsentrasi kepada Alloh ketika berzikir. Karena, kelalaianmu (terhadap Alloh) ketika tidak berzikir lebih buruk ketimbang kelalaianmu ketika berzikir. Mudah-mudahan Alloh berkenan mengangkatmu dari zikir penuh kelalaian menuju zikir penuh kesadaran, dan dari zikir penuh kesadaran menuju zikir yang disemangati kehadiran-Nya, menuju zikir yang meniadakan segala selain-Nya. "Dan yang demikian itu bagi Allah tidaklah sukar" (QS 14:20)
  • Sungguh mengherankan, orang yang lari dari apa yang dia tidak bisa terlepas darinya dan malah mencari apa yang tidak kekal baginya. "Sesungguhnya mata kepala itu tidak buta, tetapi yang buta itu adalah mata hati yang ada di dalam dada" (QS 22:46)
  • Jika engkau tidak bisa berbaik sangka kepada Alloh karena keindahan sifat-sifat-Nya, maka berbaik sangkalah karena pertemanan-Nya bersamamu. Bukankan Dia selalu memberimu sesuatu yang baik-baik? Dan bukankah Dia senantiasa memberimu nikmat?
Semoga manfa'at. Aamiin...

Sabtu, 30 Juli 2011

Kejujuran

Ahmad bin Fath berkata, Aku mendengar Bisyr bin Harits berkata, Pada suatu hari, Kahmis keluar dengan membawa dinar, lalu dinarnya terjatuh. Ia mencari dan menemukannya, tetapi ia meninggalkannya sembari berkata, "Bisa jadi dinar ini bukan dinarku." Dan pada hari yang lain, beliau pernah memakan ikan, lalu mengambil debu dari dinding tetangganya. Ia mencuci tangannya dengan debu tersebut, lalu ia berkata, "Semenjak empat puluh tahun yang lalu aku menangisi debu itu. Kenapa aku mengambil tanpa sepengetahuan si empunya rumah?"
(Shifatus Shafwah)

Di zaman sekarang adakah orang sejujur itu ? Mungkin ada. Tapi realita di sekitar kita berkata sebaliknya. Ke-tidakjujuran ada dimana-mana. Mengobral janji tanpa tahu artinya "menepati". Berlomba-lomba memenuhi kebutuhan duniawinya dengan cara menipu, curang, korupsi. Juga kasus tentang bagaimana anak-anak justru diajarkan tidak jujur saat ujiannya. Semuanya terlihat jelas di depan mata kita. Di televisi bahkan kita sulit membedakan mana yang benar-benar jujur dan mana yang membela diri demi menutupi ketidakjujurannya. Kejujuran menjadi seperti mata uang yang langka. Sulit ditemukan.

Sebuah kejujuran sebenarnya mencerminkan pribadi kita. Al-maru’ makhbu’un tahta lisanihi. Pribadi seseorang itu akan tampak apabila ia berbicara, apabila terucap perkataan yang baik dari lisannya maka baiklah ia, begitu pula sebaliknya. Jika seorang berlaku tidak jujur, bahkan kehilangan urat malunya saat melakukannya. bisa dibayangkan bagaimana pribadinya yang sebenarnya. Jauh dari akhlak terpuji.

Sebuah kejujuran juga akan diganjar pahala yang tak ternilai oleh-Nya. Dalam sebuah hadits dikatakan : "Kejujuran itu akan mendatangkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan membawa ke surga, dan dusta itu mendatangkan dosa, dan dosa akan membawa pelakunya ke neraka". Membaca hadits ini seorang yang bijak tentunya akan berpikir dua kali untuk melakukan sebuah ke-tidakjujuran bukan ? Besar atau kecil ke-tidakjujuran itu, malaikat tetap mencatatnya. Dan akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di akhirat.

Kejujuran seharusnya kita letakkan pada posisi luhur, laksana tiara. Ia, dalam keadaan apapun, harus ditempatkan pada posisi terhormat, terdepan, nomor satu. Sebab ia dapat membawa kita ke posisi selamat, posisi aman, baik di dunia maupun akhirat kelak. Jika seseorang tak mampu berperilaku jujur, maka muka menghitam tercoreng aib sendiri. Mungkin tak seberapa aib di dunia, tapi di hadapan-Nya ?

Semoga kita masih terus memiliki mata uang yag bernama 'kejujuran' itu. Menggenggamnya dengan kuat apapun yang terjadi. Karena dengannya kita masih bisa berjalan di muka bumi ini dengan penuh harga diri. Dan dihadapan-Nya kelak Dia akan memandang kita dengan penuh rahmat dan cinta kasih...

Wallahu a’lam bishawab

Kamis, 28 Juli 2011

Mulia Karena Cinta

Diriwayatkan dalam suatu hadits :
Bahwa seseorang mengunjungi saudaranya di desa lain, lalu Alloh SWT mengutus malaikat untuk membuntutinya. Tatkala malaikat menemaninya, malaikat berkata, "Kau mau ke mana?" Ia menjawab, "Aku ingin mengunjungi saudaraku di desa ini."
Malaikat terus bertanya, "Apakah kamu akan memberikan sesuatu kepada saudaramu?" Ia menjawab, "Tidak ada, melainkan hanya aku mencintainya karena Allah SWT." Malaikat berkata, "Sesungguhnya aku diutus Allah kepadamu, bahwa Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai orang tersebut karena-Nya"
-- HR Muslim

Jika hidup ini di ibaratkan taman, cinta adalah bunga-bunga yang senantiasa mekar silih berganti menghiasi kehidupan setiap anak manusia. Alloh SWT memberi begitu banyak kesempatan untuk mencinta. Mencintai-Nya, mencintai Rasul-Nya, mencintai orang tua, saudara, anak, suami/istri, sahabat, tetangga, dan cinta-cinta yang lainnya.

Dalam hirarki cinta, cinta kepada Alloh SWT berada di tempat tertinggi. Sedang cinta kepada selain-Nya hanyalah akan bernilai ketika cinta itu berawal dan berakhir karena Alloh SWT. Ketika semua cinta itu berhulu dan bermuara kepada-Nya tak akan ada cinta yang luka, cinta yang sakit, cinta yang patah. Karena semuanya hanya mengharap Ridho-Nya. Sakit atau luka akan kita terima dengan ikhlas karena semua kita niatkan karena-Nya. Demi cinta-Nya. Sehingga pada akhirnya cinta yang kita rasakan akan membawa pada kemuliaan, dan bukan sebaliknya malah terpuruk dan terhina karena cinta.

Agar tak sia-sia kita mencinta, adalah bijak untuk selalu meluruskan niat. Niatkan segala yang kita cintai hanya karena-Nya. Agar cinta-Nya mendatangimu dan memelukmu...

Wallahu'alam
--

Ya Alloh,
Kau tahu hati hati ini telah berkumpul dalam cinta-Mu
Bertemu dalam taat-Mu
Menyatu menolong dakwah-Mu
Berjanji perjuangkan syariat-Mu
Maka eratkan ikatannya Dan abadikan cintanya
(Syahid Hasan Al Banna)

Rabu, 27 Juli 2011

Futur

Pernah merasa futur ? Terutama dalam melaksanakan kebaikan/amalan. Aku yakin pernah. Dengan segala kelemahannya manusia tak bisa terhindar dari penyakit yang satu ini. Bahkan Zainab ra meletakkan seutas tali untuk dapat digunakan sebagai tempat bergantung jika datang masa futurnya, dikarenakan merasa malas berdiri untuk melaksanakan sholat.

Futur secara etimologi berarti : diam setelah giat dan lemah setelah semangat. Tingkatan paling rendahnya adalah rasa malas, berat, menunda-nunda atau memperlambat diri. Sedangkan puncaknya adalah terhenti sama sekali setelah sebelumnya rajin.

Menurut Ibnu Qayyim, "Saat-saat futur bagi seseorang yang beramal adalah hal wajar yang harus terjadi. Seseorang masa futurnya lebih membawa ke arah muraqabah (pengawasan oleh Alloh) dan pembenahan langkah, selama ia tidak keluar dari amal-amal fardhu dan tidak melaksanakan sesuatu yang diharamkan oleh Alloh, diharapkan ketika pulih ia akan berada dalam kondisi yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Sekalipun sebenarnya, aktivitas ibadah yang disukai Alloh adalah yang dilakukan secara rutin oleh seorang hamba tanpa terputus." (Madarij As-Salikin)

Untuk bisa menjauh dari kefuturan, perlu keinginan dan tekad yang kuat. Selain itu mengembalikan hati pada Sang penggenggam hati, memohon kekuatan untuk tetap istiqomah. Juga mengazzamkan niat (menguatkan niat) untuk kembali pada jalan kebenaran dan tidak kembali pada jalan kefuturan. Rosululloh bersabda, "Setiap amal memiliki puncaknya dan setiap puncak pasti mengalami kefuturan. Barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) pada sunnahku maka ia beruntung dan barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) kepada selain itu, maka berarti ia telah celaka." (HR Imam Ahmad)


Saat futur mulai menghinggapi alangkah lebih baik bila kita mulai kembali menata hati. Hati adalah tempat bersemayamnya kebaikan, sebagaimana dalam hadist, "Apabila ia baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya." Kebeningan hati, ketulusan iman serta keikhlasan berdoa merupakan senjata ampuh untuk mengikis future dan kembali pada semangat kebaikan.

Mungkin akan terasa berat. Bukankah terkadang jalan ke surga demikian adanya ? "Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka itu dikelilingi dengan kesenangan-kesenangan" (HR Bukhari dan Tirmidzi). Tapi seberat apapun jika surga dan juga ridho-Nya adalah harapan kita, insyaAlloh semuanya akan mudah kita lewati. SEMANGAT !

Wallahu'alam.

3 Utusan

Suatu hari, seperti dinukil oleh Syekh Abdurrahman Al Sinjari, dalam Al Buka min Khasyatillah, Nabi Ya'qub berdialog dengan malaikat pencabut nyawa.

"Aku ingin sesuatu yang harus engkau penuhi sebagai tanda persaudaraan kita", pinta Nabi Ya'qub.
"Apakah itu?", tanya malaikat maut.
"Jika ajalku telah dekat, beritahulah aku".
Malaikat itu menjawab,"Baik, aku akan memenuhinya. Aku akan mengirimkan tidak hanya satu utusan, tapi dua atau tiga utusan".
Setelah itu keduanya berpisah. Setelah beberapa lama malaikat itu datang kembali.
"Wahai sahabatku, apakah engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?", tanya Nabi Ya'qub
"Aku datang untuk mencabut nyawamu", jawab malaikat.
"Lalu mana ketiga utusanmu?", tanya Nabi Ya'qub lagi.
" Sudah kukirim. Putihnya rambutmu setelah hitamnya, lemahnya tubuhmu setelah kekarnya, dan membungkuknya badanmu setelah tegapnya. Wahai Ya'qub, itulah utusanku kepada setiap anak Adam.
---


Note :
Sejenak berkaca... Sudah terlihat datangkah ketiga utusan itu? Rambut yang mulai memutih satu demi satu, kerutan-kerutan yang mulai tampak disana-sini, fisik yang sudah tak sekuat dimasa muda. Itu tandanya saat untuk pergi sejengkal demi sejengkal telah mendekat. Semoga diberi kekuatan iman untuk terus mempersiapkannya, aamiin...

Selasa, 26 Juli 2011

Cinta Tak Selalu Merah Muda


Ada yang bilang cinta itu berwarna merah muda.
Tapi ketika duka menghampiri sang pecinta, masihkah ia berwarna merah muda...?

Ketika cinta menyapa diantara dua insan dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengarungi biduk rumah tangga, biasanya yang terbayang hanyalah yang indah-indah. Berharap hari yang dilalui senantiasa berwarna merah muda. Mungkin seperti ini : Berharap setiap hari "yang tercinta" membawakan coklat atau mungkin seikat bunga, mengejutkan kita dengan kartu-kartu penuh cinta atau menyiapkan 'candle light dinner' yang romantis. Hhmmmmm....Kalau memang harapan itu "pasti" akan terwujud disetiap hari yang dilalui tentu setiap insan tak perlu berpikir dua kali untuk memutuskan menikah.

Tapi ternyata roda berputar. Perjalanan cinta yang dilalui tak selamanya berwarna merah muda. Ada warna-warna lain yang silih berganti mengisi kehidupan yang dijalani. Kebahagiaan yang dinikmati kadang disusul oleh kesedihan. Suka, duka, tangis, tawa bergantian mewarnai kehidupan. Jika demikian bukan hanya warna merah muda yang menghiasi, warna kelam pun ternyata juga ikut mewarnai.

Alloh SWT menggariskan kehidupan demikian adanya. Harus ada ombak yang membuat biduk kuat menerjang gelombang. Harus ada kerikil yang membantu roda mampu mencengkeram jalanan. "Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu" (QS Ali Imran 186), begitu firman-Nya. Tapi pernahkah kita menyadari, bahwa ternyata warna kelam pun bisa mendatangkan kebaikan. Bukankah setiap kesulitan selalu membuat orang menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Keberhasilan dalam mengatasi masalah akan semakin mendewasakan kita, membuat kita lebih bijak lagi dalam melangkah bila kita mampu mengambil ibrah darinya.

Pernikahan kadang tak semudah yang kita bayangkan. Tidak sedikit yang berhenti ditengah jalan sebelum tujuan sampai. Pernikahan juga tak sesederhana yang kita harapkan. Keunikan dan kerumitan yang dialami berbeda-beda untuk setiap pasangan. Untuk itulah kita butuh kekuatan untuk menjalaninya.

Kekuatan Iman adalah kekuatan yang utama. Ketaqwaan kepada Alloh SWT adalah modal dasarnya. Semua yang dilakukan adalah benar-benar untuk niat ibadah. Senantiasa mengharap ridho-Nya, takut melanggar larangan-Nya dan berusaha menjalani perintah-Nya sebaik mungkin. Bila kekuatan ini sudah dimiliki maka tidak akan ada lagi saling menzalimi atau saling menyakiti. Bahkan sebaliknya akan timbul saling menghargai, menghormati dan senantiasa berkasih sayang diantara mereka.

Kedewasaan adalah kekuatan yang tak kalah pentingnya. Menjadi dewasa tidak sama dengan kedewasaan. Menjadi dewasa kadang tidak diiringi tingkat kedewasaan yang cukup, akibatnya sikap dan perilaku terlihat kekanakan bahkan menggelikan. Kedewasaan adalah bagaimana kita berpikir dan kemudian bersikap dalam bahasa cinta. Bagaimana kita mengubah kemarahan menjadi kesabaran, mengubah kekecewaan menjadi harapan, mengubah masalah menjadi tantangan, mengubah kesedihan menjadi pengharapan. Atau dengan kata lain bagaimana kita mengolah emosi yang timbul menjadi sesuatu yang lebih baik. Bila hal ini bisa dilakukan maka kita akan lebih bijaksana dalam menyikapi masalah yang timbul dalam pernikahan. Lebih mudah menerima kekurangan pasangan, lebih mampu memaafkan dan juga meminta maaf, dan tidak mengedepankan emosi ketika menghadapi masalah.

Cinta memang tak selalu merah muda...Justru karena inilah hidup menjadi lebih berwarna. Warna-warna lain memberi kita kesempatan untuk saling memahami dan belajar saling mencinta dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. Warna-warna lain justru yang mengajarkan pada kita agar lebih bijak menjalani hidup yang sementara ini. Pada akhirnya segala yang kita lakukan demi kebahagiaan kita tidak hanya berhenti di dunia saja, tapi insyaAlloh juga sampai di akherat kelak.

Wallahualam.

Sang Pecinta Sholat

Meski waktu subuh belum tiba, Khalifah Umar bin Khatab selalu bangun terlebih dahulu dan berkeliling membangunkan kaum muslimin untuk menunaikan sholat subuh. Ketika waktu sholat tiba, beliau sendiri yang mengatur shaf-shaf shalat dan mengimami para jamaah.

Pada shubuh itu terjadi tragedi besar dalam sejarah. Ketika khalifah mengucapkan takbiratul ikhram, tiba-tiba seorang laki-laki bernama Abu Lu'luah menikamkan sebilah pisau ke bahu, pinggang dan ke bawah pusar beliau. Darahpun menyembur. Namun khalifah yang berjuluk "Singa Padang Pasir" ini tidak bergeming dari kekhusyukannya memimpin sholat. Padahal waktu sholat masih bisa ditangguhkan beberapa saat sebelum terbitnya matahari. Sekuat apapun sang khalifah, akhirnya beliau jatuh juga. Meski demikian beliau masih sempat memerintahkan Abdurrahman bin 'Auf untuk menggantikannya sebagai imam.

Beberapa saat setelah ditikam, kesadaran dan ketidaksadaran beliau datang silih berganti. Para sahabat yang mengelilinginya demikian cemas melihat kondisi keselamatan Khalifah Umar. Salah seorang dari mereka berkata, "Kalau beliau masih hidup, tak ada yang bisa menyadarkannya selain kata-kata sholat". Lalu serentak yang hadir berkata, "Shalat wahai Amirul Mukminin. Shalat telah hampir dilaksanakan". Tiba-tiba Khalifah Umar langsung tersadar."Shalat? Kalau demikian disanalah Alloh. Tiada keberuntungan dalam Islam bagi yang meninggalkan sholat". Maka beliau melaksanakan shalat dengan darah bercucuran.


Diambil dari buku "Menjemput Maut : Bekal Perjalanan Menuju Alloh SWT - Quraish Shihab
---

Note:
Subhanalloh... Betapa besarnya kecintaan Khalifah Umar pada sholat. Tak perduli apapun keadaannya, yang ada dalam benaknya adalah tetap menegakkan sholat. Bukti betapa besar cintanya kepada Alloh SWT. Jadi merasa malu pada diri, yang kadang masih lalai dalam sholat. Semoga bisa belajar...

 ***
Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.
(QS Huud : 114)